Ibrahim Al Abrar, Siswa SD Boyolali yang Dapat Pengakuan NASA

AkalMerdeka.id – Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD asal Boyolali, menerima Letter of Recognition dari NASA setelah melaporkan celah keamanan pada salah satu sistem dalam cakupan program pelaporan kerentanan lembaga tersebut. Bocah berusia 11 tahun itu mempelajari coding dan keamanan siber secara autodidak.
Surat pengakuan tertanggal 9 Juli 2026 itu diberikan setelah laporan Ibrahim diproses melalui Vulnerability Disclosure Policy atau VDP NASA. Program tersebut membuka jalur resmi bagi peneliti keamanan untuk melaporkan kerentanan secara bertanggung jawab.
Profil Ibrahim Al Abrar dan Awal Belajar Teknologi
Ibrahim merupakan siswa SDN 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Ia lahir pada 25 Juli 2014 dan masih berusia 11 tahun ketika menerima pengakuan dari NASA.
Ketertarikannya pada teknologi bermula dari kebiasaannya bermain gim. Orang tuanya kemudian mendorong Ibrahim agar tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga mempelajari cara membuat gim sendiri.
Dari sana, Ibrahim mulai belajar coding sejak kelas 4 SD. Ia memanfaatkan video pembelajaran di internet, mencoba berbagai perangkat lunak, dan menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu memahami materi yang belum dikuasainya.
Proses belajarnya berlangsung bertahap. Ibrahim semula menggunakan telepon seluler, kemudian berlatih dengan komputer bekas sebelum akhirnya memakai laptop untuk memperdalam coding dan keamanan siber.
Ayahnya, Aminudin Salas, bekerja sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan di SMKN Kemusu. Meski tumbuh di lingkungan yang dekat dengan teknologi, kemampuan Ibrahim disebut lebih banyak berkembang melalui proses belajar mandiri.
Ibrahim Al Abrar Temukan Celah Broken Link Hijacking
Ibrahim mulai serius mempelajari keamanan siber sekitar enam bulan sebelum menerima pengakuan NASA. Ia kemudian mencoba mengikuti program pelaporan kerentanan yang dibuka untuk sistem publik dalam cakupan kebijakan NASA.
Kerentanan yang dilaporkannya disebut broken link hijacking. Celah ini dapat muncul ketika sebuah situs resmi masih mencantumkan tautan menuju halaman atau domain yang sudah tidak aktif.
Jika alamat tersebut kemudian dikuasai pihak lain, pengunjung dapat diarahkan menuju halaman palsu meski tautannya berasal dari situs tepercaya. Kondisi itu dapat dimanfaatkan untuk penipuan digital atau phishing.
Ibrahim tidak langsung berhasil pada percobaan pertama. Dua laporan awalnya belum mendapat pengakuan karena satu temuan tidak memenuhi kriteria, sedangkan laporan lainnya telah lebih dahulu disampaikan peneliti lain.
Ia tidak berhenti mencoba. Laporan ketiganya dinilai valid, lalu diproses selama hampir dua bulan sebelum Letter of Recognition diterima pada 9 Juli 2026.
Bukan Lomba atau Aksi Membobol Sistem NASA
Letter of Recognition yang diterima Ibrahim bukan medali perlombaan dan bukan pula penghargaan karena membobol sistem NASA. Surat tersebut merupakan pengakuan kepada pihak yang melaporkan kerentanan sesuai aturan pelaporan yang telah ditetapkan.
Program VDP memberikan panduan mengenai sistem yang boleh diuji, tindakan yang dilarang, dan cara mengirim laporan. Tujuannya membantu pengelola menemukan kelemahan sebelum dimanfaatkan untuk tindakan berbahaya.
Pelaporan semacam ini termasuk praktik keamanan siber yang etis. Peneliti tidak merusak layanan, tidak mengambil data, dan tidak menggunakan kerentanan untuk kepentingan pribadi.
Pencapaian Ibrahim memperlihatkan bahwa keterampilan teknologi dapat mulai dikembangkan sejak usia sekolah dasar. Rasa ingin tahu, akses terhadap materi belajar, serta dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam proses tersebut.
Ibrahim kini bercita-cita menjadi pakar keamanan siber. Selain memperdalam kemampuan teknis, ia juga perlu terus memahami etika, batas hukum, dan tanggung jawab saat menguji keamanan sebuah sistem.





