Daftar 13 Target Iran Muncul Usai Mojtaba Khamenei Bersumpah Membalas

Daftar 13 Target Iran Muncul Usai Mojtaba Khamenei Bersumpah Membalas
Donald Trump dan Benjamin Netanyahu

AkalMerdeka.id – Daftar target Iran yang memuat 13 pemimpin dan pejabat dunia muncul beberapa hari setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bersumpah membalas kematian ayahnya, Ali Khamenei. Infografis itu diterbitkan surat kabar Hamshahri dengan menempatkan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu sebagai sasaran utama.

Hamshahri merupakan surat kabar milik Pemerintah Kota Teheran. Media tersebut menampilkan para pejabat Amerika Serikat, Israel, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia mengenakan seragam tahanan berwarna oranye.

Trump dan Netanyahu ditempatkan pada baris paling atas dengan tanda bidik di bagian kepala. Infografis itu disertai pesan yang berarti “Balas dendam tidak bisa dihindari” atau “Balas dendam adalah kepastian.”

Publikasi tersebut muncul setelah Ali Khamenei dimakamkan di Mashhad pada 9 Juli 2026. Ia tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, hari pertama perang yang melibatkan Iran.

Daftar Target Iran Mengikuti Sumpah Mojtaba Khamenei

Dua hari setelah pemakaman, Mojtaba Khamenei menyampaikan pesan tertulis yang dibacakan melalui televisi pemerintah Iran. Ia menyebut pembalasan atas kematian ayahnya sebagai tuntutan bangsa yang harus dilaksanakan.

Baca Juga :  Anomali NOTAM China: Tabir Gelap di Langit Laut China Timur

“Kami berjanji membalas darah pemimpin yang gugur dan seluruh martir dalam dua perang ini dari para pembunuh yang jahat dan hina,” demikian pernyataan Mojtaba Khamenei.

Ia juga menyatakan pembalasan tidak hanya bergantung kepada pemerintah Iran, tetapi dapat melibatkan orang-orang yang disebutnya sebagai pihak bebas di berbagai negara.

Pernyataan itu memperluas makna ancaman karena tidak menyebut bentuk, waktu, atau pihak yang akan menjalankan pembalasan. Ketidakjelasan tersebut memberi ruang bagi kelompok garis keras dan media pendukung pemerintah untuk menerjemahkannya ke dalam pesan yang lebih agresif.

Hamshahri kemudian menerbitkan daftar 13 nama yang dinilai bertanggung jawab atau mendukung serangan terhadap Iran. Selain Trump dan Netanyahu, daftar itu memuat:

  1. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth
  2. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio
  3. Kepala Komando Pusat AS Brad Cooper
  4. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee
  5. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz
  6. Kepala Militer Israel Eyal Zamir
  7. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar
  8. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni
  9. Kanselir Jerman Friedrich Merz
  10. Presiden Prancis Emmanuel Macron
  11. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer
Baca Juga :  Serangan di Ghandouriyeh: Gugurnya Prajurit Prancis dan Uji Gencatan Senjata

Nama-nama itu ditampilkan dalam satu komposisi visual yang menyerupai daftar buronan. Namun, sejauh ini belum ada konfirmasi bahwa pemerintah pusat Iran, militer, atau Garda Revolusi telah mengesahkan daftar tersebut sebagai target operasi resmi.

Propaganda Media Berbeda dengan Keputusan Resmi Negara

Status penerbit daftar menjadi pembeda penting. Hamshahri dimiliki Pemerintah Kota Teheran, tetapi bukan lembaga yang mempunyai kewenangan menetapkan operasi militer atau kebijakan luar negeri Iran.

Artinya, daftar target Iran tersebut lebih tepat dibaca sebagai pesan politik dan propaganda dari lingkungan garis keras. Daftar itu belum dapat dianggap sebagai pengumuman rencana serangan yang telah disetujui oleh kepemimpinan pusat.

Meski demikian, propaganda semacam ini tetap membawa dampak nyata. Visual kepala negara dalam tanda bidik dapat meningkatkan ancaman keamanan, memicu pengamanan tambahan, dan mempersempit ruang diplomasi ketika hubungan Iran dengan AS, Israel, dan negara Eropa sudah berada pada titik rawan.

Risiko lain muncul dari kaburnya batas antara retorika dan kebijakan. Pesan pembalasan dari pemimpin tertinggi dapat digunakan oleh media, kelompok bersenjata, atau pendukung Iran di luar negeri untuk membenarkan tindakan mereka sendiri, meski tidak ada perintah langsung dari Teheran.

Baca Juga :  Paradoks Keamanan Gedung Putih: Mengapa Donald Trump Terus Menjadi Sasaran?

Mojtaba Khamenei sendiri menjadi pemimpin tertinggi pada Maret 2026 setelah dipilih oleh Majelis Ahli Iran. Jabatan itu memberinya keputusan akhir dalam urusan negara, termasuk kebijakan keamanan dan militer.

Namun, ia belum terlihat langsung di hadapan publik sejak serangan yang menewaskan ayahnya. Seluruh pesan utamanya disampaikan secara tertulis, sementara laporan Reuters menyebut ia mengalami luka berat dalam serangan tersebut.

Kondisi itu membuat komunikasi politik Iran semakin bergantung pada pernyataan tertulis, media negara, dan publikasi yang terhubung dengan pemerintah. Akibatnya, setiap pesan pembalasan mudah berkembang menjadi tafsir yang lebih ekstrem sebelum kebijakan resmi dijelaskan.

Kementerian Luar Negeri Israel mengecam publikasi Hamshahri dan menuduh Iran menghasut kekerasan terhadap para pemimpin negara demokratis. Reaksi tersebut memperlihatkan bahwa meski belum berstatus daftar resmi pemerintah, infografis itu telah menambah tekanan diplomatik dan keamanan lintas negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *