Sabotase Nord Stream, Jaksa Jerman Tuduh Otoritas Ukraina

AkalMerdeka.id – Sabotase Nord Stream kembali memanas setelah jaksa penuntut Jerman menuduh otoritas Ukraina berada di balik ledakan pipa gas Rusia ke Eropa pada 2022. Tuduhan itu muncul dalam dakwaan terhadap tersangka Serhii K., mantan perwira militer Ukraina yang kini menghadapi proses hukum di Jerman.
Dalam dakwaan yang dirinci pada Kamis, 2 Juli 2026, jaksa menyebut Serhii K. bertindak bersama enam orang lain. Mereka dituduh menjalankan operasi untuk menghancurkan pipa Nord Stream 1 dan Nord Stream 2.
Jaksa menyatakan operasi itu diduga dilakukan untuk menghentikan pasokan gas melalui pipa tersebut secara permanen. Tujuannya, menurut dakwaan, agar Rusia tidak lagi menggunakan pendapatan dari perdagangan gas alam untuk membiayai operasi perang.
Sabotase Nord Stream Disebut Atas Perintah Otoritas Ukraina
Dalam pernyataannya, jaksa Jerman menyebut Serhii K. dan para anggota tim bertindak atas perintah otoritas Ukraina. Pada saat operasi berlangsung, Serhii K. disebut berusia 50 tahun dan berstatus perwira di militer Ukraina.
Rekan-rekannya juga disebut sebagai personel militer. Namun, seluruh tuduhan tersebut masih berada dalam tahap dakwaan dan harus dibuktikan di pengadilan.
Kasus ini sensitif karena Jerman merupakan salah satu pendukung militer terbesar Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia. Jika tuduhan jaksa terbukti, perkara ini dapat menempatkan Berlin dan Kyiv dalam posisi diplomatik yang tidak mudah.
Nord Stream sendiri merupakan jalur pipa bawah laut yang menghubungkan Rusia dengan Eropa. Sebelum ledakan, Nord Stream 1 menjadi salah satu jalur penting pasokan gas alam ke Jerman.
Kronologi Dugaan Operasi dari Ukraina ke Jerman
Menurut dakwaan jaksa, Serhii K. dan timnya melakukan perjalanan dari Ukraina ke Jerman menggunakan paspor Ukraina palsu. Setelah itu, mereka menyewa yacht bernama Andromeda dari sebuah perusahaan Jerman di Rostock.
Kapal tersebut diduga digunakan sebagai sarana operasi menuju area pipa bawah laut di Laut Baltik. Penyidik Jerman dilaporkan menemukan jejak bahan peledak militer HMX dan RDX di atas yacht Andromeda.
Bahan peledak itu disebut dipasang dengan pengatur waktu pada pipa bawah laut di dekat Pulau Bornholm, Denmark, pada 22 September 2022. Empat hari kemudian, pada 26 September 2022, ledakan terjadi dan merusak parah pipa Nord Stream.
Meski pipa-pipa tersebut saat itu tidak beroperasi penuh, kerusakannya tetap berdampak besar terhadap keamanan energi Eropa. Insiden itu juga memperdalam ketegangan geopolitik setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Tersangka Membantah Dakwaan
Serhii K. telah diekstradisi ke Jerman dari Italia setelah ditangkap berdasarkan surat perintah penangkapan Jerman pada Agustus 2025. Ia kini menghadapi dakwaan sebagai kaki tangan dalam kejahatan perang, mengganggu layanan publik, menyebabkan ledakan, dan merusak infrastruktur.
Namun, Serhii K. membantah keterlibatannya. Pengacaranya juga menyatakan yakin kliennya akan dibebaskan dari tuduhan dalam persidangan.
Pembelaan itu membuat proses pengadilan menjadi penting untuk menguji bukti jaksa. Sampai ada putusan berkekuatan hukum tetap, tuduhan terhadap Serhii K. dan dugaan keterlibatan otoritas Ukraina tetap harus diposisikan sebagai dakwaan.
Dampak Diplomatik untuk Jerman dan Ukraina
Dakwaan sabotase Nord Stream membawa beban politik yang besar. Di satu sisi, Jerman berkepentingan menegakkan hukum atas serangan terhadap infrastruktur energi yang terhubung langsung dengan negaranya.
Di sisi lain, Jerman juga menjadi salah satu mitra penting Ukraina dalam perang melawan Rusia. Karena itu, perkara ini dapat memunculkan tekanan baru dalam hubungan kedua negara.
Ukraina selama ini membutuhkan dukungan militer dan politik dari negara-negara Eropa. Tuduhan bahwa operasi tersebut dilakukan atas perintah otoritas Ukraina dapat dimanfaatkan oleh pihak yang menentang bantuan untuk Kyiv.
Bagi publik Eropa, perkara ini juga membuka kembali pertanyaan lama tentang siapa yang paling diuntungkan dari rusaknya Nord Stream. Sejak ledakan 2022, insiden itu telah memicu saling tuduh antara berbagai pihak.
Namun, dakwaan jaksa Jerman menjadi perkembangan hukum paling konkret sejauh ini. Fokus berikutnya adalah pembuktian di pengadilan, termasuk asal perintah, rantai komando, penggunaan yacht Andromeda, dan keterlibatan setiap orang dalam operasi tersebut.
Kasus sabotase Nord Stream kini tidak lagi hanya menjadi misteri geopolitik. Perkara ini bergerak ke ruang sidang, tempat tuduhan terhadap Serhii K. dan dugaan keterlibatan otoritas Ukraina akan diuji secara hukum.





