Kesepakatan AS-Iran Dinilai Buka Untung Besar bagi China

AkalMerdeka.id – Kesepakatan AS-Iran yang diteken Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dinilai belum sepenuhnya menjadi kemenangan Washington. Di balik klaim perdamaian itu, sejumlah analis melihat China justru memperoleh ruang geopolitik lebih besar tanpa terlibat langsung dalam konflik.
Nota kesepahaman tersebut memperpanjang gencatan senjata, membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap, dan memulai perundingan lanjutan mengenai program nuklir Iran. Namun, kritik muncul karena kesepakatan itu belum menyelesaikan akar persoalan antara Amerika Serikat, Iran, Israel, dan jaringan konflik di Timur Tengah.
Kesepakatan AS-Iran Tidak Memuaskan Semua Pihak
Trump menandatangani memorandum kesepakatan damai dengan Iran di Istana Versailles, Prancis, disaksikan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Dalam momen itu, Trump mengakui proses menuju kesepakatan tersebut tidak mudah.
“Ini tidak mudah,” ucap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Macron menyambut penandatanganan itu sebagai langkah penting, terutama karena kesepakatan tersebut membuka jalan bagi kapal-kapal dunia melewati Selat Hormuz. Jalur ini penting karena menjadi salah satu urat nadi energi global.
“Ini adalah langkah penting ke arah yang benar bagi rekan-rekan sesama warga kita yang akan memungkinkan penurunan harga energi dalam waktu dekat,” tulis Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di akun X.
Meski demikian, kesepakatan AS-Iran tidak langsung meredakan kritik. Bagi pihak garis keras di Amerika Serikat, kesepakatan ini gagal membongkar program nuklir Iran secara penuh dan tidak menjatuhkan pemerintahan Teheran.
Di Israel, sebagian pihak juga tidak puas karena Iran dinilai berhasil mengaitkan pembukaan Selat Hormuz dengan penghentian pertempuran di Lebanon. Kondisi itu berpotensi membatasi ruang gerak militer Israel terhadap Hizbullah.
| Pihak | Alasan Tidak Puas |
|---|---|
| Garis keras AS | Program nuklir Iran tidak dibongkar sepenuhnya |
| Israel | Ruang operasi militer di Lebanon dinilai bisa menyempit |
| Garis keras Iran | Konsesi ke AS dianggap belum sebanding dengan jaminan pencabutan sanksi |
China Dianggap Mendapat Keuntungan Diam-diam
Dalam analisis The Independent yang dikutip Al Jazeera, Sean O’Grady menilai pemenang terbesar dari krisis ini bukan Amerika Serikat, Israel, atau Iran. Menurutnya, China justru keluar sebagai pihak yang paling diuntungkan.
Argumennya sederhana. Ketika Amerika Serikat terlihat masuk ke siklus ancaman, eskalasi, lalu kompromi, China dapat memosisikan diri sebagai kekuatan yang lebih stabil dan berorientasi ekonomi.
Perang dan kesepakatan AS-Iran memperlihatkan batas kekuatan militer Washington. Amerika Serikat memulai konflik dengan retorika keras terhadap Iran, tetapi hasil akhirnya tetap berupa kompromi sementara.
Ruang itulah yang dapat dimanfaatkan Beijing. Bagi banyak negara, terutama yang sensitif terhadap risiko perang dan gangguan energi, stabilitas sering terasa lebih menarik dibanding janji keamanan yang datang bersama tekanan militer.
China tidak perlu mengirim pasukan atau menjadi aktor utama di meja perundingan untuk memperoleh manfaat. Cukup dengan menjaga citra sebagai mitra dagang dan ekonomi, Beijing dapat memperkuat posisinya saat Amerika Serikat dinilai kehilangan daya paksa.
Selat Hormuz Jadi Kartu Strategis Iran
Kesepakatan AS-Iran juga menunjukkan bahwa Iran tetap memiliki kartu penting di ekonomi global. Ancaman terhadap Selat Hormuz terbukti cukup kuat untuk mengguncang harga energi dan memaksa pihak lain mencari jalan keluar diplomatik.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Ia menjadi simbol bahwa konflik regional dapat langsung mengganggu rantai pasok energi dunia, termasuk negara-negara yang tidak terlibat perang.
Karena itu, Iran tidak keluar sebagai pihak yang sepenuhnya kalah. Teheran tidak mendapatkan semua keinginannya, tetapi berhasil menunjukkan bahwa posisinya masih bisa memengaruhi pasar global.
Dampak ini penting bagi pembaca Indonesia. Ketegangan di Selat Hormuz dapat memengaruhi harga energi, biaya logistik, inflasi impor, dan tekanan fiskal di banyak negara berkembang.
Risiko Konflik Belum Hilang
Gideon Rachman dari Financial Times menilai kesepakatan ini lebih tepat dibaca sebagai kompromi terpaksa. Tidak ada pihak yang berhasil mencapai tujuan maksimal.
Amerika Serikat tidak memaksakan perubahan besar di Iran. Israel tidak memperoleh kemenangan mutlak. Iran juga belum mendapatkan jaminan penuh atas pencabutan sanksi karena proses politik di Washington masih bisa menjadi hambatan.
Risiko terbesar ada pada masa perundingan lanjutan. Jika pembahasan soal nuklir, sanksi, dan keamanan regional buntu, konfrontasi dapat kembali terbuka.
Kesepakatan AS-Iran memang meredakan perang untuk sementara. Namun, perubahan paling besar justru terjadi pada persepsi global: pengaruh Amerika Serikat tidak lagi terlihat tanpa batas, sementara China makin mudah menawarkan diri sebagai poros stabilitas ekonomi.
Bagi Washington, ini bukan sekadar ujian diplomasi Timur Tengah. Ini juga ujian terhadap citra kepemimpinan global Amerika Serikat di saat negara lain mulai mencari penyeimbang baru.




