IHSG Anjlok 37%, Pasar Kini Pertanyakan Kredibilitas Indonesia

AkalMerdeka.id – Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 tidak lagi dipandang sebagai koreksi pasar biasa. Setelah merosot sekitar 37 % dari puncaknya pada Januari dan menjadi salah satu indeks dengan performa terburuk di dunia tahun ini, sejumlah analis menilai masalah utama yang sedang dihadapi pasar Indonesia adalah krisis kepercayaan investor.
Tekanan tersebut terlihat dari kombinasi anjloknya IHSG, pelemahan rupiah hingga menembus Rp 18.049 per dolar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang telah mencapai lebih dari Rp 66 triliun sejak awal tahun.
IHSG Terpuruk, Terburuk Dibanding Bursa Regional
Tekanan jual besar-besaran mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), IHSG ditutup ambruk 4,11 persen ke level 5.941,07. Sehari kemudian indeks kembali terkoreksi 1,7 % ke posisi 5.839,78.
Pada Jumat (5/6/2026), tekanan masih berlanjut. IHSG sempat turun ke level 5.722 atau melemah hampir 2 % pada sesi awal perdagangan.
Penurunan tersebut jauh lebih dalam dibandingkan bursa utama Asia. Ketika Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, Kospi Korea Selatan, hingga Taiex Taiwan hanya terkoreksi sekitar 1 hingga 2 %, IHSG justru mengalami penurunan lebih tajam dalam dua hari berturut-turut.
Data pasar menunjukkan IHSG sebelumnya berada di puncak historis 9.134,70 pada 20 Januari 2026. Dari posisi tersebut hingga awal Juni, koreksi telah mencapai sekitar 37 %.
Bukan Fundamental Emiten, tetapi Krisis Kepercayaan
Di tengah gejolak pasar, muncul pandangan bahwa tekanan yang terjadi tidak semata-mata berasal dari kinerja perusahaan tercatat.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pasar saat ini lebih mempertanyakan kredibilitas dibanding kemampuan ekonomi Indonesia untuk bertumbuh.
“Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia.”
Pandangan serupa disampaikan Founder Republik Investor, Hendra Wardana. Menurutnya, koreksi tajam yang menembus level psikologis 6.000 menjadi sinyal bahwa pasar sedang menghadapi krisis kepercayaan yang cukup serius.
Meski demikian, Hendra menegaskan kondisi saat ini belum dapat dikategorikan sebagai krisis ekonomi yang bersifat sistemik.
Apa yang Memicu Kekhawatiran Investor?
Sejumlah faktor domestik dan global datang bersamaan sehingga memperbesar tekanan terhadap pasar.
Dari dalam negeri, sentimen negatif muncul setelah Moody’s memberikan peringkat Baa2 kepada Danantara Investment Management dengan outlook negatif. Status tersebut memang masih berada dalam kategori layak investasi, tetapi menunjukkan adanya risiko yang terus diawasi lembaga pemeringkat.
Selain itu, investor juga mencermati pelemahan rupiah yang mencetak rekor terendah baru di level Rp 18.049 per dolar AS. Pada saat yang sama, investor asing terus melakukan aksi jual dengan nilai net sell lebih dari Rp 66 triliun sepanjang tahun berjalan.
Dari sisi eksternal, pasar dibayangi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, antisipasi rebalancing indeks FTSE Russell, serta penantian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Rp 6.000 Triliun Valuasi Pasar Menguap
Besarnya tekanan pasar juga tercermin dari penyusutan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.
Saat IHSG berada di puncak pada Januari 2026, kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp 16.632 triliun. Kini nilainya menyusut menjadi sekitar Rp 10.770 triliun.
Artinya, lebih dari Rp 5.800 triliun valuasi pasar hilang dalam waktu kurang dari 5 bulan.
Angka tersebut bukan berarti uang tunai benar-benar lenyap dari sistem ekonomi. Namun, penurunan valuasi itu menggambarkan berkurangnya nilai aset yang dimiliki investor, institusi keuangan, dana pensiun, hingga pemegang saham perusahaan tercatat.
Mengapa Publik Perlu Peduli?
Krisis kepercayaan di pasar keuangan tidak hanya berdampak pada investor saham. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi biaya pendanaan perusahaan, arus investasi baru, hingga nilai tukar rupiah.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengingatkan bahwa dampak paling cepat dapat dirasakan melalui kenaikan biaya impor yang berpotensi mendorong inflasi.
Jika pelemahan rupiah berlangsung lama, biaya bahan baku impor akan meningkat dan berisiko diteruskan menjadi harga barang yang lebih mahal di tingkat konsumen.
Karena itu, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menghentikan penurunan IHSG. Yang lebih penting adalah memulihkan kepercayaan investor terhadap arah kebijakan, stabilitas pasar, dan kredibilitas institusi yang menjadi fondasi utama pasar keuangan Indonesia.





