Xi Jinping Singgung Perangkap Thucydides Saat Bertemu Trump di Beijing

Xi Jinping Singgung Perangkap Thucydides Saat Bertemu Trump di Beijing

akalmerdeka.id — Presiden China Xi Jinping secara mengejutkan mengangkat diskursus akademis “Perangkap Thucydides” di hadapan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan bilateral di Beijing, Jumat (15/5/2026). Langkah intelektual ini menandakan kekhawatiran mendalam Beijing terhadap potensi konfrontasi fisik yang tak terelakkan antara kekuatan dunia.

Xi mempertanyakan secara langsung apakah kedua negara memiliki nalar yang cukup kuat untuk menghindari pola sejarah di mana kekuatan lama dan baru berujung pada perang besar. Isu Taiwan menjadi titik sentral peringatan tersebut, di mana Beijing menegaskan bahwa stabilitas hubungan akan berada dalam bahaya besar jika kedaulatan Tiongkok diusik.

Beijing memandang rivalitas ini melalui perspektif historis yang lebih luas, bukan sekadar persaingan tarif dagang jangka pendek. Dalam diskusi selama 135 menit itu, Xi mendorong pembentukan kerangka kerja “stabilitas strategis” guna memastikan persaingan antara dua raksasa ekonomi tetap berada dalam koridor yang terkendali dan rasional.

“Bisakah kita bergandengan tangan untuk mengatasi tantangan global dan menghadirkan stabilitas yang lebih besar ke dunia?” tanya Presiden Xi Jinping kepada Trump saat jamuan makan malam di Balai Besar Rakyat.

Baca Juga :  Gugurnya Majid Khademi: Runtuhnya Perisai Intelijen di Jantung Tehran

Kehadiran Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam delegasi menjadi anomali diplomatik yang menarik perhatian, mengingat ia merupakan pejabat yang pernah dikenai sanksi oleh China. Penempatan Rubio dalam meja runding menunjukkan adanya pergeseran dinamika komunikasi di mana Washington mulai menggunakan figur garis keras untuk diplomasi langsung di jantung kekuasaan Tiongkok.

Selain isu kedaulatan, kedua pemimpin berupaya mencari titik temu terkait stabilitas Selat Hormuz guna mengamankan jalur energi global yang terganggu konflik Iran. Namun, muncul kontradiksi narasi antara pernyataan Trump yang mengklaim Xi menawarkan mediasi dengan bantahan tegas dari lingkaran internal Gedung Putih mengenai permintaan bantuan tersebut.

“Ini menandakan periode stabilitas yang terkendali yang akan bertahan untuk beberapa waktu,” papar Tianchen Xu, Ekonom Senior dari Economist Intelligence Unit, dalam analisisnya mengenai hasil KTT.

Meskipun kesepakatan pembelian 200 pesawat Boeing menjadi pemanis ekonomi, substansi pertemuan ini tetap berakar pada pengamanan risiko geopolitik yang rapuh. Beijing secara cerdik memanfaatkan momentum ini untuk menekan Washington agar menghormati kepentingan inti Tiongkok demi menghindari bencana perang besar yang menghantui sejarah manusia. ***

Baca Juga :  Geopolitik Digital: QRIS Indonesia Dobrak Hegemoni Valas di Korea

Heri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *