Unisa Yogyakarta Garap Laboratorium Stem Cell untuk Riset Pengobatan Regeneratif

Unisa Yogyakarta Garap Laboratorium Stem Cell untuk Riset Pengobatan Regeneratif

akalmerdeka.id — Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta secara resmi memproyeksikan pengoperasian laboratorium stem cell pada pertengahan 2026 sebagai upaya penguatan basis riset kedokteran regeneratif di Indonesia. Langkah intelektual ini diambil untuk menjawab tantangan masa depan dunia medis yang mulai bergeser ke arah perbaikan sel tubuh guna mengatasi berbagai penyakit degeneratif.

Wakil Rektor IV Unisa Yogyakarta, Ali Imron, dalam Media Gathering di Sleman pada Senin, 9 Maret 2026, memaparkan signifikansi penguasaan teknologi ini bagi akademisi. “Future medicine salah satunya adalah regenerative medicine. Artinya, kalau kita tidak menuju ke sana, kita akan ketinggalan,” jelas Ali Imron di hadapan para awak media.

Rasionalisasi Biaya dan Aksesibilitas Riset

Secara analitis, keberadaan laboratorium ini diharapkan mampu menjadi solusi atas tingginya biaya terapi berbasis sel punca yang selama ini bergantung pada produk impor. Saat ini, sekali injeksi terapi tertentu dapat menyentuh angka Rp225 juta, sebuah nominal yang dinilai tidak rasional bagi mayoritas masyarakat Indonesia jika tidak segera dilakukan lokalisasi riset.

Baca Juga :  Sidang KKEP Bongkar kontradiksi Etika Kompol DK di Polda Sumut

Ali Imron menekankan bahwa peningkatan jumlah fasilitas laboratorium, yang saat ini hanya berjumlah delapan di seluruh Indonesia, adalah kunci utama menekan biaya. Melalui produksi riset domestik, aksesibilitas masyarakat terhadap teknologi kesehatan tingkat tinggi akan semakin terbuka lebar dan tidak lagi bersifat eksklusif bagi kalangan tertentu saja.

Validitas Ilmiah dan Keselarasan Kurikulum

Pembangunan laboratorium ini terintegrasi dengan pengembangan akademik di Unisa Yogyakarta, khususnya pada Program Magister Fisioterapi dengan konsentrasi fisioterapi regeneratif. Selain itu, aspek etika dan hukum Islam juga telah dikaji secara mendalam melalui koordinasi bersama Majelis Tarjih PP Muhammadiyah untuk memastikan validitas praktik riset di masa depan.

Pihak universitas memastikan bahwa fungsi utama fasilitas ini adalah untuk penelitian dan pengembangan sebelum terapi diimplementasikan kepada pasien sesuai regulasi kesehatan yang berlaku di Indonesia. Kehadiran laboratorium ke-9 di tanah air ini diharapkan menjadi katalisator bagi pertumbuhan bioteknologi kesehatan berbasis universitas swasta di Nusantara.***

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *