Uji Ilmiah Banjir Sumatera: Seberapa Besar Peran Cuaca Ekstrem?

akalmerdeka.id – Banjir Sumatera akhir November 2025 diuji melalui pendekatan ilmiah untuk menilai proporsi Cuaca Ekstrem dan relevansinya terhadap penerapan pertanggungjawaban mutlak atau strict liability. Kajian forensik CENAGO ITB memaparkan data presipitasi, simulasi hidrologi, dan kontribusi perubahan lahan secara kuantitatif.
Curah hujan tercatat 150 hingga lebih dari 300 milimeter per hari akibat Siklon Tropis Senyar. Model probabilitas menempatkannya pada kategori R700 hingga R1000, jauh di atas standar mitigasi banjir R50.
Proporsi Kuantitatif dalam Analisis DAS
CENAGO menganalisis tiga daerah aliran sungai: Badiri, Garoga, dan Batang Toru. Perubahan tutupan lahan oleh korporasi dihitung terhadap total luas DAS.
PT AR tercatat sekitar 1,6 persen. PT TBS sebesar 0,4 persen. PT NSHE hanya 0,02 persen. Angka tersebut menjadi dasar evaluasi proporsionalitas kontribusi.
Simulasi hidrologi-hidrolika menunjukkan PT AR berkontribusi 0,32 persen terhadap banjir dengan tambahan runoff 0,71 persen. PT TBS berkontribusi 1,7 persen dengan tambahan runoff 0,06 persen. PT NSHE tercatat 0,05 persen dan 0,01 persen.
Dalam konteks Banjir Sumatera, persentase ini dibandingkan dengan skala Cuaca Ekstrem yang berada pada level kejadian ratusan tahun.
Menimbang Strict Liability secara Objektif
Koordinator Tim Riset CENAGO, Heri Andreas, menyatakan bahwa pembacaan harus berbasis angka.
“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Artinya, validitas strict liability perlu diuji terhadap proporsi kontribusi yang terukur. Dalam praktiknya, prinsip tersebut mensyaratkan hubungan sebab akibat yang jelas dan signifikan.
Sementara itu, model probabilitas menunjukkan kejadian presipitasi R700 hingga R1000.
“Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50,” kata Heri.
Secara rasional, perbandingan ini menempatkan Cuaca Ekstrem sebagai variabel dominan dalam Banjir Sumatera. Evaluasi hukum dan kebijakan, dalam kerangka tersebut, dituntut berdiri pada data yang terukur dan proporsional.





