UGM: Deforestasi Jadi Faktor Konstruksi Utama Banjir Bandang Sumatera

UGM: Deforestasi Jadi Faktor Konstruksi Utama Banjir Bandang Sumatera

akalmerdeka.id — Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Hatma Suryatmojo, menyampaikan bahwa banjir bandang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.

Dalam rilis resmi UGM pada Rabu (3/12/2025), ia menegaskan kerusakan hutan di kawasan hulu telah membentuk kondisi struktural yang memungkinkan bencana sebesar itu terjadi. Curah hujan ekstrem yang dipicu dinamika atmosfer dan pengaruh Siklon Tropis Senyar, menurutnya, hanya mempercepat runtuhnya sistem ekologis yang telah lama melemah.

Hatma menjelaskan bahwa hutan hulu adalah komponen penting yang mengatur intersepsi, infiltrasi, evapotranspirasi, dan kemampuan tanah menahan air. Ketika tutupan hutan hilang, seluruh mekanisme itu melemah. Akibatnya, air hujan mengalir cepat ke hilir membawa material tanah, bebatuan, dan sedimen, lalu membentuk banjir bandang yang sulit dikendalikan.

Tren kehilangan hutan di tiga provinsi, menurutnya, sudah cukup menunjukkan betapa menurunnya kapasitas ekologis Sumatera. Aceh kehilangan lebih dari 700 ribu hektare hutan sejak 1990. Sumatera Utara tinggal memiliki sekitar 29 persen tutupan hutan pada 2020. Di Sumatera Barat, deforestasi mencapai 740 ribu hektare dalam dua dekade terakhir.

Baca Juga :  Banjir Sumatera: Bantuan Korban Masuk Fase Lanjutan, Pemerintah Siapkan Kompensasi Rumah

Ia menyoroti Ekosistem Batang Toru sebagai contoh paling nyata dari hulu DAS yang terdegradasi. Fragmentasi hutan oleh konsesi, perkebunan, dan tambang menghilangkan stabilitas hidrologis yang seharusnya menopang wilayah di bawahnya. “Alam memiliki batas daya dukung. Ketika batas itu dilampaui, bencana adalah konsekuensi logis,” ujarnya.

Hatma mendorong pembenahan tata ruang, pemulihan hutan, serta penguatan kesiapsiagaan daerah. Ia menegaskan bahwa upaya teknis seperti modifikasi cuaca tidak akan efektif bila kerusakan ekologis tetap berlangsung

Bilal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *