Siapa Agus Lasmono, Pengusaha di Balik Indika dan Motor Listrik ALVA?

Siapa Agus Lasmono, Pengusaha di Balik Indika dan Motor Listrik ALVA?
Agus Lasmono

AkalMerdeka.id – Agus Lasmono menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Ekosistem Motor Listrik Nasional (MOLINAS) di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis (13/8/2026). Di balik perusahaan yang menjadi lokasi peluncuran tersebut terdapat nama Agus Lasmono, pengusaha yang dikenal sebagai pendiri, pemegang saham mayoritas, sekaligus Komisaris Utama PT Indika Energy Tbk.

Agus Lasmono Sudwikatmono lahir di Jakarta pada 6 April 1972. Namanya selama ini lebih banyak dikenal melalui bisnis energi dan batu bara, tetapi kiprah bisnisnya kemudian berkembang ke sektor kendaraan listrik melalui Indika Energy dan ALVA.

Agus Lasmono dan Latar Keluarga Bisnis

Agus merupakan putra Sudwikatmono, pengusaha yang juga dikenal sebagai sepupu Presiden ke-2 RI Soeharto. Hubungan keluarga tersebut membuat Agus Lasmono memiliki hubungan kekerabatan dengan Soeharto.

Terlepas dari latar keluarganya, Agus membangun perjalanan profesional melalui pendidikan dan bisnis. Ia meraih gelar Bachelor of Arts in Economics dari Pepperdine University, Malibu, California, pada 1993, kemudian melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar master di bidang bisnis internasional.

Basis pendidikannya di bidang ekonomi dan bisnis internasional kemudian menjadi bagian dari perjalanan Agus di dunia usaha. Ia berkembang menjadi salah satu figur utama di balik ekspansi Grup Indika ke sejumlah sektor.

Indika Energy Menjadi Basis Bisnis Agus Lasmono

Agus dikenal sebagai pendiri dan pemegang saham mayoritas PT Indika Energy Tbk. Ia juga menjabat sebagai Komisaris Utama perusahaan tersebut, sehingga memiliki posisi strategis dalam arah pengembangan grup.

Bisnis Indika tidak hanya bergerak di satu sektor. Grup tersebut memiliki jejak usaha di bidang batu bara melalui Kideco Jaya Agung, pembangkit listrik melalui Cirebon Electric Power, serta bisnis media melalui NET TV dan Radio Indika FM.

Agus juga tercatat sebagai Presiden Komisaris Indika Group sejak 2020. Portofolio tersebut memperlihatkan bagaimana kelompok usaha yang dipimpinnya memiliki kepentingan bisnis yang cukup luas, dari energi hingga media.

Pada 2019, kekayaan Agus Lasmono tercatat sekitar US$845 juta atau setara Rp11,8 triliun. Angka tersebut menempatkannya sebagai salah satu pengusaha muda terkaya versi Forbes pada saat itu.

Masuk ke Bisnis Kendaraan Listrik Lewat ALVA

Perjalanan Agus Lasmono ke sektor kendaraan listrik tidak dilakukan melalui perusahaan yang sepenuhnya berdiri terpisah dari bisnis Indika. ALVA diproduksi oleh PT Ilectra Motor Group (IMG) dan PT Electra Mobilitas Indonesia (EMI), perusahaan yang berada di bawah ekosistem PT Indika Energy Tbk.

Baca Juga :  Siapa Don Ritto, Pengacara yang Jadi Tersangka TPPU ASABRI?

IMG merupakan perusahaan patungan Indika Energy dengan Alpha JWC Ventures dan Horizons Ventures dari Hong Kong. ALVA pertama kali diperkenalkan ke publik melalui ajang GIIAS 2022 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun yang sama.

Data korporasi yang tercantum dalam bahan ini menyebut total aset ALVA mencapai US$35,4 juta. Perusahaan tersebut kemudian menjadi salah satu kendaraan bisnis Indika dalam memasuki industri kendaraan listrik roda dua.

Langkah tersebut penting karena bisnis utama Indika selama bertahun-tahun memiliki keterkaitan kuat dengan energi konvensional, terutama batu bara. Ekspansi ke kendaraan listrik menunjukkan upaya grup memperluas portofolio ke sektor yang berkaitan dengan perubahan pola konsumsi energi.

ALVA Jadi Lokasi Peluncuran Motor Listrik Nasional

Nama Agus Lasmono kembali mencuat ketika Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Ekosistem Motor Listrik Nasional di fasilitas produksi ALVA di Cikarang pada 13 Agustus 2026. Sebanyak 20 ribu unit motor listrik nasional diluncurkan dalam acara tersebut.

Prabowo menyebut kegiatan itu sebagai tonggak dari inisiatif gabungan pengusaha swasta yang diinisiasi Grup Indika. Presiden juga mengapresiasi keberanian pihak swasta mengambil proyek tersebut meski mengakui terdapat potensi kegagalan yang besar.

Dalam kunjungan ke lini produksi, Prabowo juga menaruh perhatian pada proses pembuatan kendaraan. Ia meminta melihat langsung lini produksi untuk memastikan motor yang diluncurkan memang diproduksi sesuai klaim perusahaan, bukan sekadar produk luar negeri yang ditempeli merek Indonesia.

Pernyataan tersebut menjadi relevan karena status ALVA sebagai merek dan produsen dalam negeri menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan motor listrik nasional. Manajemen Indika sebelumnya menegaskan ALVA merupakan merek asli Indonesia yang dikembangkan dan diproduksi di dalam negeri.

Kapasitas ALVA dan Harga Motor Listriknya

Fasilitas ALVA di Cikarang disebut memiliki kapasitas produksi hingga 100 ribu unit per tahun atau sekitar 8.000 unit per bulan. Kapasitas tersebut menjadi modal penting jika perusahaan ingin memperluas penggunaan motor listrik di pasar domestik.

Baca Juga :  DJP Hapus Sanksi SPT PPh 21 Desember: Analisis Relaksasi Masa Transisi

Dari sisi harga, ALVA N3 menjadi salah satu model entry-level dengan harga mulai Rp 16,5 juta. Konsumen juga ditawarkan skema sewa baterai sebesar Rp 125 ribu per bulan.

Pemerintah turut menjanjikan kemudahan pembelian berupa cicilan ringan tanpa uang muka serta program tukar tambah dari motor berbahan bakar bensin ke motor listrik. Kebijakan semacam ini berpotensi menjadi faktor penting dalam memperluas pasar kendaraan listrik, karena harga awal dan biaya kepemilikan menjadi pertimbangan utama konsumen.

Perjalanan ALVA Menuju Status Motor Nasional

Sebelum peluncuran MOLINAS, status motor yang akan disebut sebagai motor nasional sempat menjadi perdebatan. Pada 24 Juli 2026, Direktur Utama Pindad Sigit Puji Santoso menegaskan motor listrik yang akan diluncurkan bukan produksi Pindad. Pindad disebut berfokus pada mobil nasional, sementara motor akan menggunakan merek baru dengan desain oleh insinyur Indonesia.

Pada 3 Agustus 2026, Presiden Direktur IMG Purbaja Pantja juga menyebut definisi resmi motor nasional untuk kepentingan insentif pemerintah belum jelas. Padahal, ALVA telah disebut memenuhi tingkat komponen dalam negeri atau TKDN di atas 50 persen.

Persoalan tersebut membuat status nasional tidak semata-mata menjadi persoalan kandungan lokal. Kepemilikan merek, lokasi produksi dan pusat pengembangan juga menjadi aspek yang ikut diperhatikan dalam pembahasan mengenai industri kendaraan listrik nasional.

Peluncuran pada 13 Agustus akhirnya berlangsung di fasilitas ALVA Cikarang. Namun, pertanyaan mengenai kriteria resmi motor nasional untuk memperoleh insentif pemerintah tetap menjadi bagian penting dari perkembangan industri ini.

Tantangan Bisnis Listrik yang Dihadapi Indika

Masuknya Agus Lasmono dan Indika ke kendaraan listrik juga berlangsung ketika grup tersebut masih memiliki ketergantungan besar terhadap bisnis batu bara. Berdasarkan data dalam bahan ini, sekitar 81 persen pendapatan Indika masih bertumpu pada batu bara melalui Kideco.

Pada kuartal III 2025, pendapatan Indika tercatat terkoreksi 19,1 persen secara tahunan menjadi US$1,44 miliar. Laba bersih perusahaan juga disebut anjlok 98,6 persen secara tahunan.

Baca Juga :  BEI Tutup Imlek, Sentimen MSCI dan Downgrade Tekan Bursa

Di tengah kondisi tersebut, ekspansi ke kendaraan listrik menjadi langkah yang membutuhkan skala bisnis besar. Analis pasar modal menilai prospek segmen EV masih menjanjikan, tetapi mengingatkan agar ekspansi dilakukan secara selektif dan tidak sekadar menghabiskan modal.

Tantangan itu juga tidak hanya berada di sisi penjualan. Purbaja Pantja menyebut persoalan industri kendaraan listrik kini semakin bergeser dari sekadar memenuhi kandungan lokal menuju kemampuan membangun rantai pasok komponen di dalam negeri, termasuk industri baterai untuk kebutuhan sepeda motor listrik.

Nama Agus Lasmono di Tengah Persaingan Motor Listrik Nasional

Peluncuran MOLINAS juga memunculkan perdebatan mengenai proyek motor listrik nasional yang sudah lebih dahulu ada. Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro Sutono, menyoroti keberadaan Gesits yang sebelumnya dikembangkan melalui kolaborasi PT Garansindo, ITS, Pindad, LEN Industri dan WIMA.

Menurut Hendro, pengalaman Gesits perlu dievaluasi sebelum pemerintah dan pelaku industri membangun proyek baru. Ia menilai perjalanan Gesits menghadapi persoalan rantai pasok global serta perubahan kebijakan insentif dapat menjadi pelajaran bagi pengembangan industri motor listrik berikutnya.

Perdebatan tersebut membuat posisi ALVA dalam program motor listrik nasional menjadi menarik untuk dicermati. Perusahaan memiliki dukungan kapasitas produksi dan berada di bawah kelompok usaha besar, tetapi tetap harus membuktikan kemampuan membangun skala ekonomi serta rantai pasok yang kuat.

Agus Lasmono dan Arah Baru Bisnis Indika

Bagi Agus Lasmono, ALVA bukan sekadar tambahan portofolio. Kehadiran Indika di kendaraan listrik memperlihatkan perubahan arah bisnis kelompok yang selama ini sangat terkait dengan sektor energi dan batu bara.

Peluncuran MOLINAS membuat transformasi tersebut memperoleh panggung lebih besar karena dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo di fasilitas produksi ALVA. Pada saat yang sama, pemerintah dan pelaku industri masih menghadapi pekerjaan rumah untuk memastikan definisi, insentif, rantai pasok dan kemampuan produksi kendaraan listrik nasional memiliki dasar yang jelas.

Dalam acara peluncuran tersebut, Prabowo didampingi sejumlah pejabat, termasuk Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Mensesneg Prasetyo Hadi dan Komisaris PT Indika Energy Arsjad Rasjid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *