Rupiah dan Ringgit Beda Arah, Malaysia Menguat Saat RI Tertekan

AkalMerdeka.id – Rupiah dan ringgit menunjukkan arah berbeda pada paruh kedua tahun ini. Ringgit Malaysia diproyeksikan menguat karena dorongan arus masuk devisa dan surplus perdagangan, sementara rupiah masih dibayangi tekanan cadangan devisa serta kepercayaan investor yang belum sepenuhnya pulih.
Perbedaan arah ini menggambarkan kontras kondisi dua ekonomi Asia Tenggara. Malaysia mendapat dukungan dari ekspor elektronik, pembangunan pusat data, dan pembelian obligasi oleh investor asing, sedangkan Indonesia menghadapi tekanan dari pelemahan ekspor, defisit dagang bulanan, dan intervensi valuta asing.
Bloomberg melaporkan analis memperkirakan ringgit dapat bangkit setelah sempat menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada Juni. Bank Negara Malaysia mendorong perusahaan memulangkan dan mengonversi pendapatan luar negeri ke ringgit untuk memperkuat pasokan devisa.
Rupiah dan Ringgit Bergerak Berbeda
Royal Bank of Canada memperkirakan ringgit dapat menguat ke 3,95 per dolar AS pada akhir tahun. ANZ bahkan memproyeksikan ringgit berpeluang mencapai 3,80 per dolar AS, level terkuat sejak 2015.
Sejak Bank Negara Malaysia mengumumkan langkah memperkuat arus masuk devisa pada 24 Juni, ringgit tercatat menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia. Dorongan itu datang dari surplus perdagangan, ekspor yang melonjak, dan arus masuk dana asing ke pasar obligasi.
Malaysia juga diuntungkan oleh permintaan global terhadap produk elektronik dan kebutuhan pusat data yang meningkat seiring perkembangan industri kecerdasan buatan. Ekspor Malaysia pada Mei melonjak 45 persen secara tahunan, mendorong surplus perdagangan bulanan hingga 40 miliar ringgit atau sekitar US$ 9,8 miliar.
| Indikator | Malaysia | Indonesia |
|---|---|---|
| Arah mata uang | Ringgit diproyeksikan menguat | Rupiah masih tertekan |
| Faktor utama | Repatriasi devisa, ekspor, obligasi | Cadangan devisa turun, sentimen investor lemah |
| Perdagangan | Surplus besar | Defisit bulanan muncul |
Rupiah Masih Dibayangi Tekanan Investor
Berbeda dari ringgit, rupiah masih menghadapi tekanan dari sisi kepercayaan pasar. Fitch Ratings memperingatkan peringkat utang Indonesia dapat tertekan jika cadangan devisa terus menyusut dan kepercayaan investor tidak pulih.
Fitch menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 100 basis poin dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan komitmen bank sentral menjaga stabilitas rupiah. Namun, lembaga itu juga mencatat kinerja rupiah masih tertinggal dibandingkan sebagian besar mata uang lain sepanjang tahun ini.
Cadangan devisa bruto Indonesia tercatat turun 4,6 persen sepanjang Maret hingga Mei 2026. Fitch memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya cukup untuk membiayai 4,9 bulan pembayaran eksternal, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB.
“Penurunan cadangan devisa yang berkelanjutan dan tajam, terutama jika didorong oleh arus keluar modal yang terus-menerus terkait dengan kepercayaan investor yang lebih lemah atau pelemahan lebih lanjut dalam indikator tata kelola, dapat menambah tekanan pada peringkat rating Indonesia,” tulis Fitch.
Kenapa Perbedaan Ini Penting
Pergerakan rupiah dan ringgit tidak hanya penting bagi pasar uang. Nilai tukar memengaruhi biaya impor, pembayaran utang luar negeri, harga energi, dan sentimen investor terhadap aset domestik.
Malaysia mendapat bantalan dari surplus perdagangan dan arus masuk dana asing. Indonesia justru perlu menjaga cadangan devisa sambil memastikan kebijakan stabilisasi rupiah tidak terlalu menekan likuiditas domestik.
Intervensi valuta asing Bank Indonesia dapat membantu menahan tekanan kurs, tetapi langkah itu juga mengurangi cadangan devisa. Jika tekanan berlangsung lama, ruang bank sentral untuk menjaga rupiah bisa menjadi lebih sempit.
Kondisi perdagangan juga memberi tekanan tambahan. Ekspor Indonesia pada Mei turun 5,73 persen menjadi US$ 23,2 miliar, sementara neraca perdagangan mencatat defisit bulanan sebesar US$ 1,61 miliar.
Perbedaan prospek ini membuat investor akan mencermati dua hal dalam beberapa bulan ke depan: apakah Malaysia mampu menjaga momentum ringgit, dan apakah Indonesia bisa memulihkan kepercayaan pasar tanpa menguras cadangan devisa lebih dalam.





