Kematian Irene Sokoy Ungkap Rantai Gagal Sistem Rujukan Papua

Kematian Irene Sokoy Ungkap Rantai Gagal Sistem Rujukan Papua

akalmerdeka.id — Kematian Irene Sokoy (31) pada 19 November 2025 di Jayapura memperlihatkan kegagalan struktural sistem rujukan medis Papua. Perjalanan medisnya berlangsung melalui lima fasilitas dan menunjukkan absennya kesiapan tenaga, kapasitas, serta koordinasi.

Irene mulai mengalami kontraksi 16 November 15.00 WIT dan ditangani RSUD Yowari. Pembukaan 5 cm dan ketuban pecah seharusnya memicu penanganan segera. Namun tidak adanya dokter spesialis membuat rumah sakit merujuk pasien tanpa mitigasi risiko.

RSDH menolak rujukan karena NICU penuh dan dokter obgyn cuti. Wakil Direktur RSDH, drg Aloysius Giyai, 21 November, menegaskan, “Kami tidak menolak pasien; kapasitas penuh sudah disampaikan ke RSUD Yowari.

RSUD Abepura menolak karena renovasi ruang operasi, sedangkan RS Bhayangkara diduga meminta uang muka. Kondisi Irene menurun hingga akhirnya meninggal di perjalanan menuju RS DOK II.

Reaksi publik melalui tagar #LayaniDuluBayarBelakangan menunjukkan ketidakpercayaan terhadap efektivitas kebijakan kesehatan Papua. Gubernur Mathius Fakhiri mengakui lemahnya pelayanan dan menjanjikan audit.

Senator Filep Wamafma menyebut kasus ini melanggar UU Kesehatan dan UUD 1945. Pengamat Methodius Kossay merekomendasikan One-Gate Referral System agar tidak terjadi rujukan berantai tanpa kepastian.

Baca Juga :  63 Persen SPPG Surabaya Tanpa Izin, Masalah Struktural Berkedok Kelalaian

Papua memiliki AKI 565 per 100.000 kelahiran, tertinggi nasional. Kondisi geografis sulit dan fasilitas PONEK terbatas memperparah kondisi. (*)

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *