AkalMerdeka.id - Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta membantah laporan mengenai Unit 4000 IRGC yang disebut menyiapkan operasi maritim di Asia Timur, termasuk Selat Malaka dan Tanjung Priok. Bantahan itu baru disampaikan pada 25 September 2026, hampir sebulan setelah laporan awal mengenai dugaan operasi tersebut terbit pada 31 Agustus 2026.
Pernyataan Kedubes Iran tidak hanya ditujukan kepada Iran International sebagai media yang pertama memuat laporan, tetapi juga kepada media Indonesia yang kemudian mengutip atau menyiarkannya. Kedubes menilai informasi tersebut tidak benar, tidak kredibel, tidak transparan, dan tidak dapat diverifikasi.
Kedubes Iran Bantah Laporan Unit 4000 IRGC
Pernyataan resmi Kedubes Iran dimuat Sindonews pada Jumat, 25 September 2026 dan pada hari yang sama disiarkan kembali oleh Media ABI milik Ahlulbait Indonesia. Kedubes menolak seluruh klaim dalam laporan berjudul "Iran Sedang Mempersiapkan Operasi Maritim di Asia, dengan Fokus pada Selat Malaka dan Tanjung Priok".
Menurut Kedubes Iran, pemberitaan tersebut tidak memiliki dasar yang dapat diverifikasi. Mereka juga mempertanyakan keputusan sejumlah media Indonesia yang memuat ulang laporan tersebut tanpa kepastian mengenai kebenaran informasi yang disampaikan.
Kedubes menyebut penyebaran laporan itu berpotensi merusak reputasi media yang menyiarkannya dan menyimpang dari etika jurnalistik profesional. Kritik tersebut membuat polemik Unit 4000 IRGC tidak lagi hanya berkaitan dengan isi laporan, tetapi juga menyentuh proses verifikasi sebelum informasi keamanan tersebut dipublikasikan.
Laporan Awal Terbit pada 31 Agustus
Laporan yang menjadi sumber polemik diterbitkan Iran International pada 31 Agustus 2026 dengan judul "IRGC Unit 4000 plans attacks on shipping in East Asia, sources say". Laporan tersebut menyebut adanya rencana serangan terhadap pelayaran di Asia Timur berdasarkan sumber yang tidak disebutkan namanya.
Informasi itu kemudian masuk ke ruang publik Indonesia. Pada 10 September, Sindonews mengulasnya dengan judul yang menggunakan tanda tanya, yakni "Unit 4000 IRGC Iran Disebut Targetkan Tanjung Priok Indonesia, Benarkah?"
Empat hari kemudian, CNBC Indonesia juga mengutip laporan yang sama. Dalam pemberitaan tersebut disebutkan belum terdapat pernyataan dari pihak Iran mengenai klaim yang beredar.
Jeda antara publikasi laporan awal pada 31 Agustus dan bantahan resmi Kedubes Iran pada 25 September mencapai hampir empat pekan. Dalam periode tersebut, informasi mengenai dugaan ancaman terhadap Tanjung Priok telah lebih dahulu berkembang melalui pemberitaan sejumlah media.
ABI Lebih Dulu Membantah Keterlibatan
Sebelum bantahan resmi Kedubes Iran muncul, organisasi yang namanya ikut dikaitkan dengan laporan tersebut telah menyampaikan klarifikasi. Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI) Zahir Yahya pada 13 September menyatakan dirinya dan Abdullah Assegaff tidak memiliki keterlibatan dengan IRGC, termasuk Unit 4000.
Sehari kemudian, ABI menyampaikan hak jawab melalui akun Instagram. Organisasi tersebut menyoroti penggunaan sumber anonim dan menegaskan bahwa informasi dari sumber semacam itu tetap membutuhkan pengujian sebelum dianggap sebagai fakta yang telah terverifikasi.
ABI juga menyayangkan tidak adanya kesempatan konfirmasi sebelum nama tokohnya disebut dalam pemberitaan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama dalam laporan Unit 4000 IRGC bukan hanya isi tuduhannya, tetapi juga bagaimana informasi yang belum terverifikasi disebarkan dan dikutip kembali.
Kedubes Iran Soroti Media Indonesia
Dalam bantahannya, Kedubes Iran juga menyebut Iran International sebagai media penentang Iran yang didukung dan didanai Israel. Iran International sebelumnya menyatakan tidak terikat pada pemerintah mana pun, sementara menurut CNBC Indonesia, jaringan media berbahasa Persia tersebut dimiliki Volant Media UK Ltd.
Kedubes Iran menilai penyebaran laporan itu dapat merusak hubungan historis dan bersahabat antara Iran dan Indonesia. Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Teheran memandang pemberitaan mengenai dugaan operasi Unit 4000 IRGC sebagai isu yang memiliki konsekuensi lebih luas daripada sekadar laporan keamanan.
Meski demikian, pernyataan Kedubes tidak merinci media Indonesia mana saja yang mereka maksud. Kedubes juga tidak mencantumkan nama pejabat yang menandatangani pernyataan tersebut maupun langkah lanjutan yang akan ditempuh terhadap media yang dinilai bermasalah.
Belum Ada Konfirmasi Resmi Pemerintah Indonesia
Di tengah silang pendapat tersebut, belum terdapat konfirmasi resmi pemerintah Indonesia bahwa Tanjung Priok benar-benar menjadi target Unit 4000 IRGC. Penelusuran hingga 5 Oktober 2026 juga belum menemukan tanggapan resmi dari Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara, TNI, maupun Badan Siber dan Sandi Negara mengenai klaim tersebut.
Mantan Duta Besar RI untuk Iran Dian Wirengjurit sebelumnya juga meragukan ancaman Unit 4000 terhadap Tanjung Priok dalam siniar Madilog pada 3 Oktober 2026. Keraguan tersebut menambah konteks bahwa klaim mengenai target serangan di Indonesia masih berada dalam ruang perdebatan dan belum memperoleh konfirmasi resmi dari pemerintah Indonesia.
Sementara itu, laporan Iran International terus berkembang dengan klaim tambahan mengenai komandan Unit 4000, Rahman Moghaddam, yang disebut selamat dari serangan Israel dan kini memimpin perencanaan operasi di Selat Malaka serta Selat Bangka. Klaim tersebut tetap menjadi bagian dari informasi yang diperdebatkan karena bersumber dari informan anonim dan berhadapan dengan bantahan dari pihak Iran.