IHSG Anjlok 5%, Aksi Jual Masif Hantam 731 Saham!

akalmerdeka.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga 5,07 persen pada perdagangan Senin (2/2/2026) pagi akibat tekanan jual yang merata di seluruh sektor. Kondisi ini membuat para pelaku pasar waspada mengingat indeks terus merosot ke level 7.904,52 meski fundamental ekonomi diklaim masih kokoh.
Lantai Bursa Memerah di Seluruh Sektor
Tekanan pasar yang luar biasa besar membuat IHSG terkapar sejak menit awal pembukaan perdagangan. Data perdagangan menunjukkan bahwa pelemahan ini bersifat masif dan tidak hanya didominasi oleh segelintir saham penggerak indeks saja.
Berdasarkan data RTI, sebanyak 731 saham tercatat merosot ke zona merah hingga pukul 10.50 WIB. Angka ini mencerminkan sentimen negatif yang menyelimuti hampir seluruh emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sementara itu, hanya 68 saham yang mampu mencatatkan kenaikan tipis di tengah badai koreksi. Sebanyak 159 saham lainnya memilih stagnan atau tidak bergerak sama sekali dari posisi pembukaan.
Indeks mengawali pagi di level 8.306 sebelum akhirnya terus tergerus ke bawah level psikologis. Pada pukul 10.30 WIB, IHSG berada di posisi 7.919 atau sudah melemah hingga 4,92 persen.
Kejatuhan ini memicu volume perdagangan yang sangat tinggi mencapai 30,13 miliar lembar saham. Aktivitas transaksi di pasar reguler maupun negosiasi tercatat menembus nilai Rp16,29 triliun dengan frekuensi 1,72 juta kali.
Besarnya nilai transaksi menunjukkan adanya upaya likuidasi aset dalam skala besar oleh investor domestik maupun asing. Kepanikan tampaknya mulai menjalar di tengah ketidakpastian pergerakan pasar jangka pendek.
Optimisme Pemerintah Tak Redam Gejolak
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebenarnya telah mencoba memberikan suntikan semangat kepada para pelaku pasar. Sebelum perdagangan dibuka, ia meyakini bursa akan bergerak positif dan tidak akan mengalami “kebakaran“.
“Harusnya bursanya akan naik, jadi Anda nggak usah khawatir. Enggak lah, pasti naik lah,” ujar Purbaya dengan nada optimis di Jakarta, Sabtu lalu.
Namun, harapan tersebut sirna ketika monitor perdagangan justru menampilkan warna merah pekat sepanjang pagi. Keyakinan Purbaya bahwa investor tetap fokus pada fundamental ekonomi tampaknya belum terbukti di lapangan.
Purbaya juga sempat menyinggung soal pergantian Direktur Utama BEI yang tidak akan mengganggu operasional pasar. Menurutnya, sistem otomatisasi bursa sudah cukup kuat untuk menggantikan peran kepemimpinan secara instan.
“Itu membuktikan sistemnya sudah cukup baik, jadi nggak akan ada gangguan di bursa,” tutur Purbaya menjelaskan kondisi internal BEI. Nyatanya, sistem yang stabil tetap tidak mampu menahan laju sentimen negatif yang memicu aksi jual.
Investor terlihat lebih merespons risiko jangka pendek daripada janji pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mendekati 6 persen. Dinamika pasar hari ini menjadi pengingat bagi otoritas bahwa persepsi risiko dapat berubah sangat cepat.
Investor Cermati Langkah Otoritas Pasar
Koreksi dalam yang dialami IHSG kini menjadi pusat perhatian banyak pihak di sektor keuangan. Para pelaku pasar mulai mencermati apakah akan ada intervensi dari otoritas pasar modal untuk meredam volatilitas.
Hingga menjelang siang, belum ada tanda-tanda pelemahan akan mereda ke level yang lebih aman. IHSG justru semakin terperosok ke level 7.904,52 yang menandakan sentimen negatif masih sangat dominan.
Besarnya tekanan jual membuat banyak investor ritel mulai melakukan langkah antisipasi kerugian yang lebih dalam. Fokus pasar kini beralih pada data ekonomi makro yang mungkin bisa menjadi penahan laju koreksi indeks.
“Mereka akan lihat ke fundamental, kan fundamental ekonominya bagus, saya perbaiki terus,” kata Purbaya sebelumnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong perbaikan ekonomi nasional agar terus membaik ke depan.
Meski demikian, fakta bahwa IHSG anjlok secara drastis tetap menjadi catatan merah bagi awal pekan ini. Volatilitas tinggi ini memaksa para pengelola dana untuk menyusun ulang strategi investasi mereka.
Publik berharap bursa segera menemukan titik jenuh jual agar indeks tidak terus meluncur bebas. Pantauan terhadap pergerakan modal asing juga menjadi kunci penting untuk melihat arah pasar selanjutnya.





