Dedolarisasi Terstruktur: Upaya Intelektual BI Perkuat Ketahanan Rupiah

Dedolarisasi Terstruktur: Upaya Intelektual BI Perkuat Ketahanan Rupiah

akalmerdeka.id — Indonesia secara konsisten menerapkan strategi dedolarisasi terstruktur melalui kerangka Local Currency Transaction (LCT) guna memitigasi risiko eksternal dan memperkuat fundamental ekonomi nasional secara mandiri.

Kebijakan ini membuahkan hasil signifikan dengan catatan transaksi LCT pada Januari-Februari 2026 yang mencapai $8,45 miliar, atau tumbuh eksponensial sebesar 163 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya.

Pendekatan ini merupakan langkah intelektual otoritas moneter untuk menciptakan diversifikasi mata uang dalam perdagangan internasional, sekaligus menekan biaya konversi yang selama ini membebani neraca pembayaran.

Hingga April 2026, integrasi transaksi dengan mitra utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan semakin solid melalui penggunaan mata uang lokal sebagai instrumen penyelesaian pembayaran yang sah.

Rasio Efisiensi dan Diversifikasi Valuta Asing

Pemanfaatan mata uang lokal secara langsung dalam transaksi bilateral bertujuan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih adil dan tidak terpusat pada satu mata uang tunggal.

Bank Indonesia secara tegas menyatakan bahwa langkah ini bukan merupakan aksi anti-dolar, melainkan strategi rasional untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari tekanan pasar global.

Baca Juga :  IHSG Anjlok 5%, Aksi Jual Masif Hantam 731 Saham!

Penyelesaian transaksi secara langsung dengan mata uang mitra akan mengurangi tekanan terhadap dolar AS dan memperkuat ekosistem valuta asing Indonesia, jelas Destry Damayanti, Senior Deputy Governor BI pada 23 November 2025.

Pernyataan tersebut didukung oleh data bahwa penggunaan LCT telah merambah sektor-sektor strategis seperti manufaktur, transportasi, hingga jasa, yang memperkuat daya saing industri domestik di pasar global.

Transformasi Instrumen Moneter Berbasis Yuan dan Yen

Akselerasi dedolarisasi ini diperkuat dengan peluncuran instrumen moneter dalam mata uang Yuan dan Yen sejak November 2025, yang memfasilitasi kebutuhan likuiditas non-dolar di pasar domestik.

Volume perdagangan pasangan mata uang CNY/IDR kini menjadi salah satu yang teraktif di pasar regional, mencerminkan pergeseran paradigma pelaku usaha dalam memilih metode penyelesaian transaksi.

Transaksi yang dicatat Indonesia dengan China menggunakan mata uang lokal telah mencapai hampir $7 miliar, ungkap Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia pada 4 November 2025.

Kehadiran 12 bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) untuk koridor Indonesia-China memastikan bahwa proses transisi menuju sistem pembayaran multirateral berjalan secara lancar dan profesional. ***

Baca Juga :  Geopolitik Digital: QRIS Indonesia Dobrak Hegemoni Valas di Korea

Doni Jatnika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *