Rafael Grossi hingga Michelle Bachelet, Adu Rekam Jejak 6 Calon Sekjen PBB Pengganti Antonio Guterres

Rafael Grossi hingga Michelle Bachelet, Adu Rekam Jejak 6 Calon Sekjen PBB Pengganti Antonio Guterres
Sidang PBB

AkalMerdeka.id – Persaingan menuju kursi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai mengerucut dengan munculnya enam kandidat dari berbagai negara. Mereka akan bersaing menggantikan Antonio Guterres di tengah situasi global yang diwarnai konflik bersenjata, krisis kemanusiaan, serta tekanan terhadap peran PBB dalam diplomasi internasional.

Enam kandidat tersebut terdiri atas empat perempuan dan dua laki-laki. Masing-masing membawa pengalaman diplomatik, rekam jejak kepemimpinan, serta dukungan politik yang akan menjadi modal dalam proses pemilihan di Dewan Keamanan PBB.

Rafael Grossi Dinilai Menjadi Salah Satu Kandidat Terkuat

Rafael Grossi
Rafael Grossi

Nama Rafael Grossi dari Argentina kerap disebut sebagai salah satu kandidat yang memiliki peluang besar. Diplomat berusia 65 tahun itu saat ini menjabat Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), lembaga yang berada di bawah sistem PBB.

Selama memimpin IAEA sejak 2019, Grossi berada di garis depan berbagai isu strategis dunia, mulai dari pengawasan program nuklir Iran hingga keselamatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia di Ukraina.

Berbeda dengan kandidat lain, Grossi memilih tetap menjalankan tugasnya di IAEA dan tidak mengundurkan diri untuk berkampanye.

Ia menilai meninggalkan jabatan di tengah berbagai persoalan internasional justru merupakan bentuk pengabaian tanggung jawab.

Baca Juga :  Netanyahu Adukan Erdogan ke AS, Israel Anggap Ancaman Serius

Sejumlah pengamat juga menilai Grossi lebih vokal dalam mendorong reformasi PBB agar organisasi tersebut memiliki peran yang lebih aktif dalam menyelesaikan krisis global.

Michelle Bachelet Membawa Pengalaman Hak Asasi Manusia

Michelle Bachelet
Michelle Bachelet

Michelle Bachelet merupakan mantan Presiden Cile sekaligus mantan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Perempuan berusia 74 tahun itu dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang pemerintahan dan diplomasi internasional. Saat menjabat di PBB, ia beberapa kali berselisih dengan pemerintah China setelah menerbitkan laporan mengenai dugaan pelanggaran hak kelompok Uyghur.

Bachelet menilai Sekretaris Jenderal PBB harus memiliki keberanian moral untuk mengambil sikap meski berada di bawah tekanan negara-negara besar.

Ia sempat memperoleh dukungan dari Meksiko dan Brasil. Namun, dukungan dari negara asalnya berubah setelah pergantian pemerintahan di Cile.

Maria Fernanda Espinosa Tawarkan Reformasi PBB

Mantan Menteri Luar Negeri Ekuador, Maria Fernanda Espinosa, juga masuk dalam daftar kandidat.

Perempuan berusia 61 tahun itu pernah menjabat Presiden Majelis Umum PBB dan mengusulkan sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi konflik sebelum berkembang menjadi krisis internasional.

Espinosa menilai PBB tetap menjadi satu-satunya organisasi global yang mampu mempertemukan negara-negara dalam menghadapi tantangan bersama. Meski demikian, ia mendorong reformasi yang lebih mendalam agar organisasi tersebut lebih responsif.

Baca Juga :  Krisis Eksistensial NATO: Dekonstruksi Kebijakan Luar Negeri Donald Trump

Menariknya, pencalonannya didukung Antigua dan Barbuda, bukan negara asalnya, Ekuador.

Rebeca Grynspan Andalkan Rekam Jejak Diplomasi

Rebeca Grynspan berasal dari Kosta Rika dan saat ini memimpin Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD).

Mantan wakil presiden Kosta Rika itu mengambil cuti dari jabatannya untuk mengikuti proses pencalonan Sekretaris Jenderal PBB.

Salah satu pencapaian diplomatiknya adalah membantu memediasi Inisiatif Gandum Laut Hitam pada 2022, yang memungkinkan ekspor gandum tetap berlangsung di tengah perang Rusia dan Ukraina.

Grynspan juga menilai PBB selama ini terlalu berhati-hati dalam mengambil keputusan sehingga kurang mampu merespons dinamika dunia secara cepat.

Carolyn Rodrigues-Birkett Fokus Pulihkan Kredibilitas PBB

Carolyn Rodrigues-Birkett merupakan mantan Menteri Luar Negeri Guyana dan kini menjabat duta besar negaranya untuk PBB.

Diplomat berusia 52 tahun itu menilai tantangan utama organisasi internasional tersebut adalah memulihkan kembali kredibilitasnya di mata dunia.

Menurutnya, PBB tidak hanya berperan dalam menjaga perdamaian dan keamanan, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan, hak asasi manusia, hingga kerja sama internasional yang sering luput dari perhatian publik.

Baca Juga :  Negosiasi Trump-Xi di Beijing: Melampaui Perangkap Thucydides

Macky Sall Satu-satunya Kandidat dari Afrika

Mantan Presiden Senegal, Macky Sall, menjadi satu-satunya kandidat yang berasal dari Afrika.

Politikus berusia 64 tahun itu menekankan bahwa perdamaian dan pembangunan merupakan dua agenda yang tidak dapat dipisahkan.

Pencalonannya diajukan oleh Burundi sebagai Ketua Uni Afrika dan kemudian mendapat dukungan resmi dari pemerintah Senegal.

Namun, rekam jejak Sall juga menjadi sorotan setelah otoritas Senegal menuduh pemerintahannya melakukan penindasan terhadap demonstrasi politik yang menimbulkan puluhan korban jiwa pada periode 2021 hingga 2024.

Hak Veto Tetap Menjadi Penentu

Pemilihan Sekretaris Jenderal PBB tidak hanya bergantung pada kualitas kandidat. Untuk terpilih, seorang calon harus memperoleh sedikitnya sembilan suara dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB dan tidak boleh mendapat veto dari lima anggota tetap, yakni Amerika Serikat, Inggris, China, Prancis, dan Rusia.

Mekanisme tersebut membuat dukungan politik menjadi faktor yang sama pentingnya dengan pengalaman diplomatik. Di tengah perbedaan kepentingan negara-negara besar dan tantangan global yang semakin kompleks, sosok Sekretaris Jenderal berikutnya diperkirakan akan menghadapi ruang gerak yang tidak mudah dalam menjaga peran PBB sebagai forum utama diplomasi internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *