Hari Janda Internasional 23 Juni Berawal dari Kisah Ibu Loomba

Hari Janda Internasional 23 Juni Berawal dari Kisah Ibu Loomba

AkalMerdeka.id – Hari Janda Internasional diperingati setiap 23 Juni sebagai observasi resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Peringatan ini lahir untuk mengangkat persoalan sosial, ekonomi, hukum, dan kemanusiaan yang masih dihadapi jutaan janda di berbagai negara.

Dalam kalender PBB, Hari Janda Internasional bukan hari libur publik. Peringatan ini menjadi momentum advokasi agar negara, lembaga sosial, dan masyarakat memberi perhatian lebih pada hak serta perlindungan janda.

Sejarah Hari Janda Internasional

Hari Janda Internasional memiliki akar personal dari keluarga Lord Raj Loomba, pendiri Loomba Foundation. Tanggal 23 Juni dipilih untuk mengenang hari ketika ibunya, Shrimati Pushpa Wati Loomba, menjadi janda pada 23 Juni 1954 di Punjab, India.

Pengalaman hidup ibunya mendorong Raj Loomba membangun gerakan global untuk memperjuangkan hak janda. Loomba Foundation kemudian didirikan di Inggris pada 1997 oleh Raj Loomba dan Veena Loomba.

Gerakan ini berkembang menjadi kampanye internasional. Pada 2005, Loomba Foundation meluncurkan International Widows Day sebagai hari aksi global untuk menyoroti penderitaan janda yang kerap tidak terlihat dalam kebijakan publik.

Baca Juga :  Data BPS dan Imlek 2026 Jakarta dalam Lanskap Demografi

Kampanye itu berlanjut selama beberapa tahun hingga akhirnya mendapat pengakuan dari PBB. Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi A/RES/65/189 pada 21 Desember 2010 untuk menetapkan 23 Juni sebagai International Widows’ Day.

Peringatan resmi pertama setelah pengakuan PBB berlangsung pada 23 Juni 2011. Sejak itu, Hari Janda Internasional diperingati setiap tahun sebagai ruang untuk membicarakan hak janda, anak-anak yang bergantung pada mereka, dan hambatan sosial yang masih bertahan.

Mengapa Isu Janda Diangkat PBB?

PBB menilai janda di banyak negara masih menghadapi persoalan yang kompleks. Masalah itu tidak hanya berkaitan dengan kehilangan pasangan, tetapi juga akses ekonomi, perlindungan hukum, layanan kesehatan, dan hak atas harta.

Di sejumlah masyarakat, janda bisa kehilangan hak waris setelah suaminya meninggal. Ada pula yang menghadapi stigma sosial, pengucilan, perampasan harta, hingga tekanan dari keluarga atau komunitas.

Persoalan menjadi lebih berat bagi janda yang hidup di wilayah konflik. Banyak perempuan kehilangan suami akibat perang, kekerasan, atau krisis kemanusiaan, lalu harus menanggung beban ekonomi keluarga sendirian.

Baca Juga :  Krisis Air Jawa: Kegagalan Tata Kelola dan Ancaman Eksistensial

Janda lanjut usia juga menghadapi kerentanan berbeda. Akses pensiun, rekening bank, layanan kesehatan, dan dukungan sosial sering kali lebih terbatas, terutama di negara yang belum memiliki sistem perlindungan sosial kuat.

Karena itu, Hari Janda Internasional bukan sekadar peringatan simbolik. Momentum ini digunakan untuk mendorong pengakuan hak, pengumpulan data, perlindungan hukum, dan pemberdayaan ekonomi bagi janda.

Isu yang Masih Dihadapi Janda

Beberapa isu utama yang disorot dalam Hari Janda Internasional adalah kemiskinan, diskriminasi, kekerasan, dan praktik tradisional berbahaya. Dalam beberapa kasus, janda bahkan dipaksa menjalani ritual yang merendahkan martabat setelah kematian suami.

Masalah lain adalah hak atas tanah dan properti. Ketika hak kepemilikan tidak dilindungi, janda dapat kehilangan rumah, sumber penghidupan, atau aset keluarga.

Anak-anak dari keluarga janda juga ikut terdampak. Hilangnya penghasilan utama keluarga dapat membuat anak rentan putus sekolah, kekurangan gizi, atau masuk ke pekerjaan informal sejak usia dini.

Situasi ini membuat isu janda berkaitan langsung dengan agenda pembangunan. Perlindungan janda tidak hanya menyangkut kesetaraan gender, tetapi juga pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan keadilan sosial.

Baca Juga :  15 Perempuan Pecahkan Sejarah, Kini Pimpin Kantor Urusan Agama

Makna Hari Janda Internasional 2026

Pada 2026, Hari Janda Internasional memasuki peringatan ke-16 sejak diakui PBB. Momentum ini tetap relevan karena persoalan janda belum sepenuhnya masuk dalam arus utama kebijakan publik.

Advokasi yang dilakukan lembaga seperti Loomba Foundation menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi. Pelatihan kerja, akses modal, perlindungan hak waris, dan dukungan pendidikan bagi anak-anak janda menjadi bagian penting dari agenda tersebut.

Masyarakat juga dapat ikut berperan dengan cara sederhana. Dukungan bisa diberikan melalui donasi, pendampingan komunitas, kampanye kesadaran publik, atau membeli produk dari usaha yang dikelola janda.

Hari Janda Internasional mengingatkan bahwa status janda tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan hak, martabat, atau akses hidup layak. Di balik tanggal 23 Juni, ada pesan besar tentang keadilan sosial bagi kelompok yang sering tidak terlihat.

Hilman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *