Keir Starmer Mundur, Inggris Menuju PM Ke-7 Sejak Brexit

Keir Starmer Mundur, Inggris Menuju PM Ke-7 Sejak Brexit

AkalMerdeka.id – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan akan mundur dari kepemimpinan Partai Buruh dan meninggalkan jabatan PM dalam beberapa pekan ke depan. Keputusan itu disampaikan di tengah tekanan internal partai, Senin (22/6/2026), kurang dari 2 tahun setelah Labour menang besar dalam Pemilu 2024.

Pengunduran diri Starmer memperpanjang periode instabilitas politik Inggris sejak referendum Brexit 2016. Dalam satu dekade, Inggris berulang kali berganti perdana menteri sebelum masa politiknya benar-benar stabil.

Starmer Mundur di Tengah Tekanan Labour

Starmer menyampaikan pengumuman dari depan kediaman resmi perdana menteri di 10 Downing Street. Pernyataannya disampaikan singkat dan diwarnai emosi.

“Pertanyaan yang kini diajukan partai saya adalah apakah saya masih sosok yang tepat untuk membawa partai ini menghadapi pemilu berikutnya,” ujar Starmer.

Ia mengatakan telah mendengar sikap para koleganya di parlemen. Starmer juga menyebut menerima keputusan politik itu dengan lapang dada.

“Saya telah mendengar jawaban dari rekan-rekan saya di parlemen dan menerimanya dengan lapang dada,” katanya.

Baca Juga :  Anatomi Tragedi Kahramanmaraş: Kegagalan Pengawasan dan Ancaman Subkultur Digital

Starmer membawa Partai Buruh menang telak dalam Pemilu Juli 2024. Namun, dukungan publik terhadap pemerintahannya terus turun setelah Labour berkuasa.

Tekanan terhadap Starmer semakin kuat setelah Andy Burnham menang dalam pemilihan sela pekan lalu. Kemenangan itu memperkuat posisi Burnham sebagai figur yang dinilai mampu menantang kepemimpinan Starmer.

Krisis PM Inggris Berlanjut Sejak Brexit

Mundurnya Starmer kembali menegaskan rapuhnya stabilitas politik Inggris dalam 10 tahun terakhir. Sejak referendum Brexit pada 23 Juni 2016, kursi perdana menteri Inggris terus berganti dalam rentang waktu relatif pendek.

David Cameron mundur setelah referendum Brexit. Theresa May kemudian gagal menyelesaikan kebuntuan politik Brexit dan digantikan Boris Johnson.

Johnson juga akhirnya tumbang setelah rangkaian kontroversi politik. Liz Truss kemudian hanya bertahan singkat, sebelum Rishi Sunak mengambil alih pemerintahan Konservatif.

Starmer sempat dipandang sebagai figur yang dapat mengakhiri periode pergantian cepat itu. Namun, kurang dari 2 tahun setelah membawa Labour kembali berkuasa, ia juga memilih mengakhiri masa kepemimpinannya lebih awal.

Baca Juga :  Krisis Eksistensial NATO: Dekonstruksi Kebijakan Luar Negeri Donald Trump

Dengan keputusan ini, Inggris kini bersiap memasuki fase suksesi baru. Pengganti Starmer berpeluang menjadi perdana menteri berikutnya tanpa melalui pemilu nasional baru, selama tetap mendapat dukungan mayoritas parlemen.

Andy Burnham Menguat Jadi Pengganti

Nama Andy Burnham kini menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan. Ia kembali ke parlemen setelah menang dalam pemilihan sela dan langsung masuk dalam bursa kuat pengganti Starmer.

Burnham sebelumnya dikenal sebagai Wali Kota Greater Manchester. Posisinya di luar Westminster selama beberapa tahun membuatnya memiliki jarak dari pemerintahan pusat, tetapi tetap punya basis dukungan kuat di Labour.

Kembalinya Burnham ke parlemen terjadi pada saat Labour mengalami tekanan dari dalam dan luar partai. Kondisi itu membuat peluangnya dalam kontestasi kepemimpinan semakin terbuka.

Meski demikian, proses suksesi belum sepenuhnya selesai. Labour masih harus menentukan mekanisme pemilihan pemimpin baru dan memastikan transisi pemerintahan berjalan tanpa krisis tambahan.

Bayang-Bayang 10 Tahun Brexit

Pengumuman mundurnya Starmer datang sehari sebelum Inggris menandai 10 tahun referendum Brexit. Keputusan keluar dari Uni Eropa itu masih membayangi ekonomi, perdagangan, imigrasi, dan arah politik dalam negeri Inggris.

Baca Juga :  NASA Alihkan Strategi Orbit ke Pangkalan Permukaan Bulan Senilai $20 Miliar

Brexit tidak hanya mengubah hubungan Inggris dengan Eropa. Keputusan itu juga memicu perubahan besar dalam lanskap politik domestik, termasuk fragmentasi dukungan pemilih dan melemahnya kepercayaan publik terhadap partai-partai besar.

Di bawah Starmer, Labour sempat menjanjikan stabilitas setelah era Konservatif yang penuh pergantian pemimpin. Namun, tekanan ekonomi, turunnya dukungan publik, dan dinamika internal partai membuat janji stabilitas itu sulit dipertahankan.

Karena itu, mundurnya Starmer tidak hanya menjadi cerita pergantian pemimpin Labour. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa krisis politik Inggris pasca-Brexit belum benar-benar selesai.

Dalam beberapa pekan ke depan, perhatian publik Inggris akan tertuju pada sosok pengganti Starmer. Tantangan terbesarnya bukan hanya memimpin Labour, tetapi juga memulihkan kepercayaan terhadap pemerintahan di tengah kelelahan politik yang panjang.

Heri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *