Penerima MBG Direvisi, Siapa yang Masih Dapat dan Siapa yang Dicoret?

AkalMerdeka.id – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai merevisi penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mempersempit sasaran program kepada kelompok yang dinilai lebih membutuhkan intervensi gizi. Sejumlah sekolah yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan gizi siswanya secara mandiri mulai dikeluarkan dari daftar penerima manfaat.
Sebanyak 76 sekolah di Pulau Jawa telah teridentifikasi tidak lagi menerima program Makan Bergizi Gratis. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian agar distribusi bantuan dinilai lebih tepat sasaran.
Penerima MBG Diprioritaskan untuk Kelompok Rentan
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan pemerintah saat ini memfokuskan program kepada kelompok yang membutuhkan intervensi pemenuhan gizi.
“Mereka secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka, tidak membutuhkan intervensi dari pemerintah,” kata Agustina Arumsari.
Menurut BGN, pendataan sementara telah mengidentifikasi 76 sekolah di Pulau Jawa yang masuk kategori mampu memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri.
“Sampai dengan hari ini, tanggal hari ini, kami sudah melakukan pendataan dan sudah teridentifikasi 76 sekolah di Pulau Jawa sementara ini,” ujar Agustina.
Siapa yang Masih Bisa Mendapatkan MBG?
Dalam skema baru, penerima MBG akan lebih difokuskan kepada kelompok dengan kebutuhan gizi yang dinilai lebih mendesak.
- Ibu hamil
Diprioritaskan untuk membantu pencegahan stunting sejak masa kehamilan. - Ibu menyusui
Diberikan dukungan gizi untuk membantu kualitas ASI dan kebutuhan nutrisi bayi. - Balita
Masuk kelompok prioritas untuk mendukung tumbuh kembang pada periode awal kehidupan. - Siswa wilayah 3T
Pelajar di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar menjadi prioritas karena akses terhadap pangan bergizi cenderung lebih terbatas. - Siswa dari keluarga kurang mampu
Difokuskan kepada keluarga yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Kelompok yang Berpotensi Tak Lagi Menerima MBG
BGN juga membuka kemungkinan pengurangan penerima manfaat dari kelompok yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri.
Salah satu yang disinggung ialah siswa SMA dari kalangan ekonomi atas.
“Misalnya lah contoh gampang, untuk SMA ya mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA yang, mungkin yang uang sakunya anak-anaknya sudah Rp100.000, Rp200.000 gitu ya,” kata Agustina.
Menurut BGN, pengurangan kelompok penerima dari kalangan mampu berpotensi mengurangi sekitar 8 juta penerima manfaat.
BGN menyebut penentuan penerima tidak hanya melihat status sekolah, tetapi juga sejumlah indikator lain.
- Kerentanan gizi
- Kondisi sosial ekonomi
- Akses terhadap pemenuhan gizi
- Kondisi lingkungan pendukung
“Sekali lagi, hal ini kami lakukan agar program Makan Bergizi Gratis ini benar-benar secara efektif, efektif itu diberikan kepada memang yang tepat sasaran,” ujar Agustina.
Perubahan penerima MBG ini menunjukkan bahwa program mulai bergerak dari pendekatan yang lebih luas menuju sistem berbasis kebutuhan. Dampaknya bukan hanya pada jumlah penerima, tetapi juga pada efektivitas distribusi bantuan gizi ke depan.





