El Niño Akan Dimulai, Ancam Pangan hingga Ekonomi Global pada 2027

Fenomena El Niño kembali muncul dan kali ini para ilmuwan memperingatkan dampaknya bisa jauh melampaui perubahan cuaca biasa. Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menyatakan El Niño telah berlangsung di kawasan Pasifik tropis, dengan peluang besar berkembang menjadi salah satu peristiwa terkuat sejak pencatatan modern dimulai.
Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, peringatan ini bukan hanya soal musim kemarau yang lebih panjang. El Niño berpotensi memengaruhi produksi pangan, memperbesar risiko kebakaran hutan, mengganggu perekonomian, hingga mendorong suhu global mencapai rekor baru pada 2027.
El Niño Bukan Sekadar Fenomena Cuaca
El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang terjadi secara berkala setiap dua hingga tujuh tahun. Ketika suhu laut meningkat, pola cuaca global ikut berubah.
Di sejumlah wilayah, perubahan tersebut dapat memicu kekeringan berkepanjangan. Di wilayah lain, justru meningkatkan risiko hujan ekstrem dan banjir.
NOAA menyebut peluang terjadinya El Niño sangat kuat mencapai 63 persen pada periode November 2026 hingga Januari 2027. Jika prediksi ini terwujud, fenomena tersebut akan masuk dalam jajaran El Niño terbesar sejak 1950.
Tiga peristiwa terkuat sebelumnya terjadi pada 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016. Ketiganya meninggalkan dampak ekonomi dan lingkungan yang luas di berbagai belahan dunia.

Indonesia Menghadapi Risiko Kekeringan dan Karhutla
Indonesia termasuk negara yang paling sensitif terhadap dampak El Niño. Saat fenomena ini menguat, curah hujan biasanya berkurang sehingga musim kemarau berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, sebelumnya telah memperkirakan semester kedua 2026 berpotensi lebih kering.
“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya,” kata Ardhasena Sopaheluwakan.
Tanda-tanda awal dampaknya mulai terlihat di Aceh Barat. Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan (HAkA) melaporkan area kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Bubon diperkirakan mencapai sekitar 280 hektare berdasarkan analisis citra satelit.
Kebakaran terdeteksi di sejumlah desa, termasuk Kuta Padang, Beurawang, dan Pange. HAkA memperingatkan kebakaran dapat meluas apabila tidak segera ditangani.
Ancaman Terbesar Ada pada Pangan
Dampak El Niño yang paling cepat dirasakan masyarakat biasanya muncul pada sektor pangan. Berkurangnya curah hujan dapat mengganggu masa tanam dan menurunkan produktivitas pertanian.
Ketika produksi menurun, pasokan pangan ikut tertekan. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga berbagai komoditas penting.
Efek berantai ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah wilayah di Afrika, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah juga menghadapi risiko serupa saat El Niño menguat.
Mohamed Adow, Direktur Power Shift Africa, menyebut deklarasi El Niño sebagai peringatan serius bagi jutaan orang yang hidup bergantung pada sektor pertanian.
“Deklarasi El Niño bukan sekadar prakiraan cuaca biasa — bagi jutaan orang, ini adalah sirene mematikan yang patut ditakuti,” kata Mohamed Adow.
Ia menilai dampaknya dapat berupa gagal panen, tanaman mati akibat kekurangan air, kenaikan harga pangan, hingga tekanan ekonomi terhadap rumah tangga yang sudah rentan.
Pemanasan Global Membuat Dampaknya Lebih Berat
Kekhawatiran ilmuwan tidak hanya berasal dari El Niño itu sendiri. Fenomena ini muncul ketika suhu bumi sudah berada pada level yang sangat tinggi akibat pemanasan global.
Biasanya El Niño kuat mampu meningkatkan suhu rata-rata global sekitar 0,2 derajat Celsius karena lautan melepaskan panas yang tersimpan ke atmosfer.
Ketika tambahan panas tersebut bertemu dengan tren pemanasan global yang sudah berlangsung selama puluhan tahun, risiko cuaca ekstrem menjadi lebih besar.
Kepala Prediksi Bulanan hingga Dekadal UK Met Office, Prof. Adam Scaife, memperingatkan bahwa dunia dapat menghadapi suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Kita benar-benar harus mencemaskan dampaknya,” ujar Prof. Adam Scaife.
Menurutnya, El Niño saat ini berkembang di atas kondisi bumi yang sudah jauh lebih panas dibandingkan beberapa dekade lalu.

Mengapa Tahun 2027 Menjadi Sorotan?
Para ilmuwan mulai menaruh perhatian besar pada 2027 karena dampak El Niño biasanya mencapai puncaknya setelah fenomena berkembang penuh.
Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah modern, meskipun saat itu El Niño tidak tergolong sangat kuat. Sementara itu, tahun 2025 tetap menjadi salah satu tahun terpanas meski sempat dipengaruhi efek pendinginan La Niña.
Jika El Niño saat ini berkembang menjadi super El Niño, kombinasi dengan pemanasan global berpotensi mendorong suhu rata-rata dunia ke level yang lebih tinggi lagi.
“Di akhir tahun ini dan memasuki tahun 2027, kita kemungkinan besar akan melihat suhu global yang sangat tinggi,” ujar Prof. Scaife.
Kenaikan suhu tersebut dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari kesehatan masyarakat, energi, produktivitas kerja, hingga stabilitas pasokan pangan global.
Lebih dari Sekadar Ramalan Cuaca
Deklarasi El Niño dari NOAA dan penilaian serupa dari Badan Meteorologi Jepang menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki periode yang perlu diwaspadai. Meski intensitas akhirnya masih bisa berubah, banyak model cuaca memperkirakan fenomena ini akan bertahan hingga akhir tahun.
Bagi Indonesia, perhatian utama bukan hanya pada suhu yang lebih panas, tetapi juga pada risiko kekeringan, kebakaran hutan, gangguan pertanian, dan tekanan terhadap harga pangan.
Belum ada bukti konklusif bahwa perubahan iklim membuat El Niño lebih sering terjadi. Namun para ilmuwan sepakat bahwa dunia yang semakin panas dapat memperbesar dampak buruk yang ditimbulkan setiap kali fenomena ini muncul.
Itulah sebabnya El Niño kini tidak lagi dipandang sekadar peristiwa cuaca musiman. Fenomena ini telah menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi ketahanan pangan, ekonomi, dan kehidupan jutaan orang di berbagai negara dalam beberapa tahun ke depan.





