AS Naikkan Ancaman Spionase Israel ke Level Kritis, Ada Apa?

AS Naikkan Ancaman Spionase Israel ke Level Kritis, Ada Apa?

AkalMerdeka.id – Hubungan Amerika Serikat dan Israel menghadapi ujian baru setelah Badan Intelijen Pertahanan AS atau Defense Intelligence Agency (DIA) dilaporkan menaikkan status ancaman aktivitas spionase Israel dari level “tinggi” menjadi “kritis”. Keputusan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan terkait perang melawan Iran dan perbedaan pandangan antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Laporan yang pertama kali diungkap NBC News dan kemudian diperkuat The New York Times menyebut Washington semakin khawatir terhadap aktivitas intelijen Israel yang dinilai lebih agresif dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kenapa AS Menaikkan Ancaman Spionase Israel?

Berdasarkan laporan internal yang dikutip sejumlah media AS, DIA meningkatkan status kewaspadaan karena adanya dugaan upaya Israel untuk memantau komunikasi dan pembicaraan pejabat tinggi Amerika Serikat.

Fokus pengawasan tersebut disebut berkaitan dengan diskusi internal Gedung Putih mengenai kemungkinan mengakhiri perang dengan Iran. Dugaan ini menjadi sensitif karena Trump dan Netanyahu memiliki pandangan berbeda terkait arah konflik yang berlangsung sejak Februari 2026.

Baca Juga :  Iran Serang Israel Usai Gencatan Senjata, Ancaman Perang Besar Timur Tengah Kembali Menguat

Di satu sisi, Trump berulang kali menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri perang yang mulai menjadi beban politik domestik. Di sisi lain, Netanyahu disebut mendorong kelanjutan operasi militer meski sebelumnya sempat tercapai gencatan senjata sementara pada April lalu.

Pejabat Tinggi AS Disebut Jadi Target Pengawasan

Laporan tersebut menyebut aktivitas intelijen Israel tidak hanya bersifat umum, melainkan menyasar sejumlah pejabat yang terlibat langsung dalam perumusan kebijakan keamanan nasional Amerika Serikat.

Salah satu nama yang disebut adalah Steve Witkoff, utusan khusus Trump yang berperan dalam proses negosiasi sebelum serangan AS-Israel ke Iran. Selain itu, pejabat Pentagon Elbridge Colby dan wakilnya Michael DiMino IV juga dilaporkan menjadi objek pengawasan.

Jika informasi tersebut terbukti, kasus ini dapat memperbesar ketegangan di balik hubungan erat yang selama ini terjalin antara Washington dan Tel Aviv.

Bukan Kasus Pertama dalam Hubungan AS-Israel

Aktivitas intelijen antarnegara sekutu sebenarnya bukan hal yang tidak biasa. Namun, laporan The New York Times menyebut peningkatan aktivitas yang terdeteksi sejak akhir 2024 dinilai jauh lebih intens dibanding periode sebelumnya.

Baca Juga :  Investigasi PBB Ungkap Anomali Serangan Ganda Terhadap Kontingen Garuda

Intelijen AS disebut menemukan sejumlah indikasi operasi yang lebih agresif. Salah satu yang pernah mencuat adalah dugaan upaya pemasangan alat perekam di markas DIA pada 2021.

Laporan itu juga menyebut badan intelijen domestik Israel, Shin Bet, diduga mencoba menanam perangkat serupa pada kendaraan dinas Secret Service pada 2025.

Meski demikian, Pentagon membantah laporan tersebut. Seorang juru bicara Departemen Pertahanan AS memberikan respons singkat saat dimintai konfirmasi.

“Palsu,” ujar juru bicara tersebut kepada NBC News dan The New York Times.

Selama puluhan tahun, Israel menjadi salah satu mitra strategis terdekat Amerika Serikat. Washington secara konsisten memberikan bantuan militer bernilai miliaran dolar serta dukungan diplomatik di berbagai forum internasional.

Ketika aktivitas intelijen sebuah negara sekutu mulai dipandang sebagai ancaman serius, hubungan yang selama ini dibangun atas dasar kepercayaan dapat menghadapi tekanan baru.

Dampaknya bagi Hubungan AS dan Israel

Dalam jangka pendek, laporan ini berpotensi memperumit koordinasi intelijen antara kedua negara, terutama terkait konflik Iran dan stabilitas Timur Tengah.

Baca Juga :  Festival Berubah Jadi Kepanikan, 8 Orang Tertembak di Ohio

Dalam jangka panjang, kasus ini bisa memengaruhi perdebatan di Kongres AS yang saat ini tengah membahas kerja sama pertahanan yang lebih dalam dengan Israel, termasuk integrasi penelitian dan pengembangan teknologi persenjataan.

Meski belum ada indikasi perubahan hubungan diplomatik secara langsung, peningkatan status ancaman spionase Israel menunjukkan bahwa bahkan hubungan sekutu terdekat sekalipun tidak selalu bebas dari kecurigaan dan persaingan kepentingan.

Heri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *