8,8 Ton Sampah Diangkut, Mengapa ‘Pulau Sampah’ Bisa Muncul di Muara Angke?

Jakarta, AkalMerdeka.id – Kemunculan ‘pulau sampah’ di pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, kembali menyoroti persoalan lama pengelolaan sampah di kawasan Jabodetabek. Tumpukan sampah yang berada sekitar 600-700 meter dari daratan itu viral di media sosial dan memicu operasi pembersihan besar-besaran oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Dalam empat hari penanganan, petugas berhasil mengangkut 8,8 ton sampah dari kawasan endapan Muara Kali Adem. Namun, di balik pembersihan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih besar: mengapa tumpukan sampah hingga menyerupai pulau bisa terbentuk di pesisir Jakarta?
Bagaimana ‘Pulau Sampah’ Itu Terbentuk?
Awalnya, hamparan sampah yang mengapung di kawasan pesisir Muara Angke diduga terbawa arus sungai dan laut. Sampah yang datang secara terus-menerus kemudian terjebak di area tertentu hingga menumpuk bersama endapan lumpur atau sedimentasi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan proses sedimentasi yang terjadi di kawasan Muara Angke.
“Sedangkan yang di Muara Angke yang kemudian terjadi pulau sampah karena sedimentasi,” ujar Pramono.
Ketika sampah bercampur dengan endapan lumpur dan terus bertambah setiap hari, gundukan yang terbentuk bisa muncul ke permukaan sehingga menyerupai daratan kecil atau pulau.
8,8 Ton Sampah Diangkut dalam Empat Hari
Pembersihan dilakukan sejak 2 hingga 5 Juni 2026 oleh petugas gabungan yang dikerahkan Pemprov DKI Jakarta.
Kepala Seksi Penanganan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Seribu, Lukman Dermanto, merinci jumlah sampah yang berhasil diangkut setiap hari.
- Hari pertama: 0,88 ton
- Hari kedua: 1,76 ton
- Hari ketiga: 3,52 ton
- Hari keempat: 2,64 ton
Total sampah yang berhasil dibersihkan mencapai 8,8 ton selama empat hari operasi.
“Iya (total 8,8 ton),” kata Lukman.
Sampah Kiriman dari Hulu Jadi Masalah Utama
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan sebagian besar sampah yang menumpuk di Muara Angke bukan berasal dari kawasan pesisir itu sendiri. Sampah tersebut merupakan kiriman dari wilayah hulu yang terbawa aliran sungai hingga bermuara ke laut.
Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta Afan Adriansyah Idris menyebut persoalan sampah kiriman menjadi tantangan terbesar dalam menjaga kebersihan kawasan pesisir.
“Tantangan terbesarnya yang pasti adalah sampah yang selalu hadir. Selalu datang dari arah hulu,” ujarnya.
Karena itu, upaya pembersihan tidak hanya dilakukan di hilir. Pemprov DKI juga mengandalkan sekat dan saringan sampah di sejumlah titik sungai untuk menahan sampah sebelum mencapai laut.
Pembersihan Hampir Rampung
Sejak Rabu (3/6), Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengerahkan sekitar 100 petugas, dua ekskavator amfibi, dan tiga kapal pengangkut sampah untuk membersihkan kawasan tersebut.
Menurut Afan, progres pembersihan telah mencapai sekitar 85 hingga 90 persen dan ditargetkan seluruh tumpukan sampah dapat dihilangkan dalam waktu singkat.
“Dan kami pastikan bahwa per Sabtu sore, seluruh sampah yang ada di delta tersebut sudah akan hilang,” katanya.
Jakarta Darurat Sampah
Kemunculan ‘pulau sampah’ menunjukkan bahwa persoalan sampah Jakarta tidak hanya berakhir di tempat pembuangan akhir. Sampah yang dibuang ke saluran air dapat berpindah jauh hingga ke kawasan pesisir dan laut.
Dampaknya tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengganggu ekosistem pesisir, aktivitas nelayan, serta memperbesar risiko banjir ketika aliran air tersumbat oleh sampah.
Karena itu, pembersihan di Muara Angke hanya menjadi solusi jangka pendek. Tanpa pengurangan sampah dari sumbernya dan perubahan perilaku masyarakat dalam membuang sampah, tumpukan serupa berpotensi kembali muncul di masa mendatang.





