Pagelaran Teater Cara Menjadi Sederhana Bongkar Manusia yang Terlalu Patuh pada Prosedur

Pagelaran Teater Cara Menjadi Sederhana Bongkar Manusia yang Terlalu Patuh pada Prosedur
Pagelaran Teater dari Ngaos Art, menampilkan "Cara Menjadi Sederhana"

AkalMerdeka.id – Pagelaran teater Cara Menjadi Sederhana menghadirkan situasi ganjil: tiga tokoh ingin makan, tetapi tidak segera menyentuh nasi karena menunggu sebuah sendok. Dari persoalan sederhana itu, pertunjukan di Ngaos Art, Tasikmalaya, pada 21 Agustus 2026 membongkar kebiasaan manusia modern yang terlalu bergantung pada aturan, prosedur, dan kepastian sebelum berani bertindak.

Karya tersebut menempatkan Mimi, Kido, dan Miqdam dalam situasi absurd yang perlahan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka tahu bahwa makan adalah tindakan sederhana, tetapi pengetahuan itu tidak otomatis membuat mereka mampu melakukannya ketika satu benda yang dianggap penting tidak tersedia.

Pagelaran Teater Berangkat dari Benda Sederhana

Sendok yang tidak kunjung hadir menjadi pusat persoalan dalam Cara Menjadi Sederhana. Ketidakhadiran benda tersebut membuat tindakan makan yang seharusnya mudah berubah menjadi persoalan panjang dan penuh pertimbangan.

Di situlah absurditas pertunjukan bekerja. Persoalannya bukan lagi apakah tokoh memiliki makanan atau merasa lapar, melainkan mengapa mereka terus menunggu sesuatu dari luar dirinya sebelum mengambil tindakan.

Dr. Rahman Sabur menilai absurditas dalam karya tersebut tidak berhenti pada permainan logika yang terbalik. Menurut dia, para tokoh justru menggambarkan manusia yang terlalu patuh terhadap cara berpikir yang sudah dilembagakan.

Baca Juga :  7 Komik Terlaris Sepanjang Masa, Dari One Piece hingga Superman yang Kuasai Dunia

“Absurditas dalam Cara Menjadi Sederhana bekerja sebagai epistemologi tubuh. Slobodon dan Anteh bukan manusia yang kehilangan akal, tetapi manusia yang terlalu patuh kepada akal yang telah dilembagakan,” ujar Sabur.

Menurutnya, para tokoh sebenarnya mengetahui bahwa makan merupakan tindakan sederhana. Namun, pengetahuan tersebut tidak lagi cukup untuk membuat mereka bertindak sehingga kehendak yang masih dimiliki akhirnya berhadapan dengan ketidakmampuan menggunakan kehendak itu sendiri.

Pagelaran Teater

Sendok Menjadi Simbol Prosedur

Arif, S.Pd., M.Sn., melihat persoalan kesederhanaan dalam karya ini sebagai masalah eksistensial. Manusia modern, menurut dia, tidak selalu menghadapi persoalan karena kekurangan pilihan, tetapi karena terlalu banyak sistem yang menentukan bagaimana seseorang harus memilih.

Dalam pembacaan tersebut, sendok menjadi benda kecil yang membuka persoalan lebih besar. Ketika sesuatu yang sederhana harus menunggu legitimasi dari luar, manusia perlahan dapat kehilangan tanggung jawab atas keputusan dirinya sendiri.

Praktisi teater Wit Jabo juga melihat ketidakhadiran sendok sebagai kekuatan dramaturgi. Benda itu tidak pernah hadir, tetapi perilaku para tokoh justru terus ditentukan oleh keberadaannya dalam pikiran mereka.

Baca Juga :  Suri Cruise Resmi Ganti Nama Jadi Suri Noelle, Tak Lagi Gunakan Nama Belakang Tom Cruise

“Sendok itu tidak ada, tetapi seluruh perilaku tokoh ditentukan oleh ketidakhadirannya. Secara teatrikal, ini menarik karena objek material berubah menjadi kekuatan imaterial,” kata Wit Jabo.

Metafora tersebut membuat sendok tidak lagi sekadar perlengkapan makan. Ia dapat dibaca sebagai gambaran prosedur, aturan, notifikasi, atau suara otoritas yang tidak selalu terlihat, tetapi mampu memengaruhi tindakan manusia.

Pagelaran Teater 4

Ketika Kebiasaan Menunggu Menjadi Persoalan

Moa Aziz membaca pertunjukan ini dari kebiasaan manusia menunda kehidupan. Menurut dia, manusia sering menetapkan syarat tertentu sebelum merasa siap menjalani hidup, seperti menunggu sukses, pengakuan, atau keadaan yang dianggap lebih baik.

“Kita semua memiliki sendok yang kita tunggu. Kita mengatakan akan hidup setelah sukses, setelah diakui, setelah keadaan membaik,” tuturnya.

Pembacaan tersebut membuat kelucuan dalam Cara Menjadi Sederhana perlahan berubah menjadi kegelisahan. Penonton tidak hanya melihat tokoh yang gagal melakukan sesuatu yang mudah, tetapi juga berhadapan dengan kebiasaan yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Aris Sehat Tentrem kemudian melihat lapisan sosial-politik dalam karya tersebut. Kritik terhadap nasionalisme tidak disampaikan melalui slogan, melainkan melalui pertanyaan mengenai kemandirian manusia dalam menentukan tindakan.

Baca Juga :  Intelektual Global Gugat Algoritma YouTube Atas Ancaman AI Slop

“Nasionalisme dalam karya ini hadir sebagai etika keberanian. Bangsa yang dewasa bukan bangsa yang memiliki aturan paling banyak, melainkan bangsa yang mampu membedakan mana aturan yang menjaga kehidupan dan mana aturan yang justru membuat kehidupan berhenti,” ujarnya.

Dengan demikian, kritik terhadap prosedur dalam pertunjukan tidak berarti menolak aturan. Persoalannya terletak pada saat prosedur yang awalnya dibuat untuk membantu kehidupan justru berubah menjadi sesuatu yang harus ditaati meski tujuan awalnya sudah tidak lagi terlihat.

Cara Menjadi Sederhana kemudian membawa pertanyaan tersebut kembali ke situasi paling elementer. Jika seseorang sudah lapar, nasi sudah tersedia, dan tubuh masih mampu bergerak, apa yang sebenarnya membuatnya terus menunggu?

Pagelaran teater di Ngaos Art menjadi ruang apresiasi sebelum karya tersebut dibawa ke Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta pada 26–28 Agustus. Dari Tasikmalaya, karya itu selanjutnya akan hadir dalam ruang festival nasional dengan membawa pembacaan tentang absurditas, tubuh, prosedur, dan keberanian manusia untuk bertindak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *