Video Dody Hanggodo Viral, Gesturnya Dibandingkan Pak Bas

Video Dody Hanggodo Viral, Gesturnya Dibandingkan Pak Bas
Menteri PU, Dody Hanggodo dan Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono

AkalMerdeka.id – Video Dody Hanggodo viral setelah Menteri Pekerjaan Umum itu terlihat tidak menyambut uluran tangan seorang pria dalam sebuah prosesi penyambutan. Cuplikan tersebut memicu perbandingan dengan mantan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono yang selama 10 tahun membangun citra dekat dengan staf dan masyarakat.

Rekaman yang beredar memperlihatkan Dody turun dari pesawat, menerima pengalungan kain, lalu bersalaman dengan perempuan yang menyambutnya. Seorang pria kemudian terlihat mengulurkan tangan, tetapi Dody melanjutkan langkah tanpa berjabat tangan dengannya.

Identitas pria tersebut dan alasan Dody tidak menyambut tangannya belum dapat dipastikan dari potongan video. Karena itu, rekaman beberapa detik tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa Dody sengaja merendahkan atau mengabaikan bawahannya.

Video Dody Hanggodo Viral dan Kuatnya Bayangan Pak Bas

Reaksi publik tidak muncul hanya karena satu gestur. Dody mengambil alih jabatan Menteri PU dari Basuki Hadimuljono pada 21 Oktober 2024, setelah Kementerian PUPR dipisahkan menjadi Kementerian PU serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Basuki meninggalkan standar pembanding yang kuat. Ia memimpin kementerian tersebut sepanjang 2014–2024 dan sebelumnya meniti karier panjang sebagai aparatur di bidang pekerjaan umum serta sumber daya air.

Baca Juga :  Surat Terbuka Keluarga Eks Direksi ASDP: Mempertanyakan Dasar Kerugian Negara

Selama satu dekade, publik mengenal Basuki bukan hanya melalui pembangunan jalan tol, bendungan, dan infrastruktur. Ia juga membangun citra sederhana, spontan, mudah bercanda, dan tidak menjaga jarak secara berlebihan dalam berbagai kegiatan.

Salah satu kisah yang kembali dibicarakan adalah kebiasaannya tidak memakai WhatsApp ketika masih menjadi menteri. Sri Mulyani Indrawati pernah mengatakan koordinasi dengan Basuki harus dilakukan melalui SMS.

“Dia satu-satunya menteri yang enggak pakai WA. Jadi masih SMS, kalau yang lain WA,” ujar Sri Mulyani di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada 18 Oktober 2019.

Kebiasaan itu sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan kualitas pembangunan infrastruktur. Namun, cerita tersebut memperkuat gambaran Basuki sebagai pejabat yang tampil apa adanya dan tidak terlalu terpaku pada simbol jabatan.

Gestur Kecil Bisa Membentuk Penilaian Besar

Bagi pejabat publik, jabat tangan bukan sekadar formalitas. Dalam lingkungan birokrasi yang bertingkat, cara seorang pemimpin menyapa staf dapat dibaca sebagai tanda penghargaan, kedekatan, atau jarak kekuasaan.

Itulah sebabnya cuplikan singkat mudah berkembang menjadi perdebatan luas. Publik tidak melihatnya sebagai gerakan tangan semata, tetapi menghubungkannya dengan cara pejabat memperlakukan orang yang memiliki posisi lebih rendah.

Baca Juga :  Dody Hanggodo Janjikan Umrah untuk Pembukti Aisyah Keponakannya

Namun, algoritma media sosial sering memisahkan momen dari kejadian sebelum dan sesudahnya. Kamera bisa tidak merekam seluruh interaksi, orang yang bersangkutan mungkin telah disalami sebelumnya, atau perhatian pejabat sedang tertuju pada pihak lain.

Penilaian yang adil perlu membedakan apa yang terlihat dan apa yang diasumsikan. Fakta yang dapat diamati adalah uluran tangan tidak tersambut dalam cuplikan. Niat, hubungan kedua pihak, dan penyebabnya belum terungkap.

Dody dan Basuki Datang dari Latar Berbeda

Perbandingan keduanya juga perlu memperhitungkan perjalanan karier yang berbeda. Profil resmi Kementerian PU mencatat Dody menempuh pendidikan Teknik Perminyakan di Institut Teknologi Bandung dan meraih gelar Master of Petroleum Engineering dari University of Tulsa, Amerika Serikat.

Basuki tumbuh di lingkungan birokrasi pekerjaan umum sebelum menjadi menteri selama dua periode. Citra publiknya terbentuk melalui pengalaman panjang, hasil pembangunan, penanganan bencana, kunjungan lapangan, dan ribuan interaksi yang terekam selama bertahun-tahun.

Dody belum memiliki rentang waktu yang sama untuk membentuk kesan tersebut. Karena itu, satu video tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai kepemimpinannya.

Baca Juga :  Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa, 2 Pembangkit Gangguan

Meski demikian, viralnya rekaman itu memberi peringatan nyata. Pejabat tidak hanya dinilai melalui anggaran, proyek, dan target pembangunan, tetapi juga melalui sikap sehari-hari yang terlihat di depan masyarakat.

Komunikasi nonverbal menjadi semakin penting ketika hampir setiap kegiatan direkam dari berbagai sudut. Gestur yang dianggap sepele oleh pejabat dapat dibaca berbeda oleh publik, terutama ketika menyangkut hubungan dengan staf atau masyarakat biasa.

Kinerja Dody tetap harus diuji melalui kualitas infrastruktur, ketepatan anggaran, kecepatan menangani kerusakan, dan manfaat proyek bagi rakyat. Namun, kepemimpinan yang kuat juga membutuhkan rasa hormat yang terlihat dalam interaksi paling sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *