16 Gubernur Jawa Barat dari Masa ke Masa hingga Dedi Mulyadi

AkalMerdeka.id – Gubernur Jawa Barat dari masa ke masa memperlihatkan perubahan besar dalam pemerintahan daerah, mulai dari masa revolusi kemerdekaan hingga era pemilihan langsung. Sebanyak 16 tokoh berbeda tercatat pernah memimpin Jawa Barat secara definitif sejak 1945, dengan R. Mas Sewaka menjabat dalam dua periode terpisah.
Dedi Mulyadi menjadi tokoh terbaru dalam daftar tersebut setelah dilantik sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2025–2030 bersama Wakil Gubernur Erwan Setiawan pada 20 Februari 2025. Sebelumnya, kepemimpinan transisi dipegang Penjabat Gubernur Bey Machmudin sejak berakhirnya masa jabatan Ridwan Kamil pada September 2023.
Jawa Barat sendiri ditetapkan sebagai salah satu dari delapan provinsi pertama Indonesia melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 19 Agustus 1945. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Perda Nomor 26 Tahun 2010.
Daftar Gubernur Jawa Barat dari Masa ke Masa
Berikut 16 tokoh yang pernah atau sedang menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat definitif.
R. Mas Sewaka hanya dihitung satu tokoh meski memimpin dalam dua periode.
| No. | Nama | Periode | Catatan Penting |
|---|---|---|---|
| 1 | Mas Sutardjo Kertohadikusumo | Agustus–Desember 1945 | Gubernur pertama Jawa Barat setelah Indonesia merdeka. Pemerintahannya berlangsung ketika situasi keamanan dan administrasi negara masih dalam masa pembentukan. |
| 2 | Mohammad Datuk Djamin | Desember 1945–Juni 1946 | Memimpin ketika tekanan Sekutu dan Belanda meningkat serta pusat pemerintahan Republik Indonesia berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. |
| 3 | Murdjani | Juni 1946–Maret 1947 | Tokoh Partai Indonesia Raya yang kemudian tercatat memimpin Jawa Timur. |
| 4 | R. Mas Sewaka | 1947–1948 dan 1950–1951 | Satu-satunya tokoh yang memimpin Jawa Barat dalam dua periode terpisah pada masa pergolakan revolusi dan transisi dari Republik Indonesia Serikat. |
| 5 | Ukar Bratakusumah | 1948–1950 | Memimpin pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Ia kemudian pernah menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Rektor ITB. |
| 6 | Mohamad Sanusi Hardjadinata | 1951–1956 | Memimpin ketika Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika 1955, salah satu peristiwa diplomasi terpenting bagi Indonesia dan negara-negara Asia-Afrika. |
| 7 | Ipik Gandamana | 1956–1960 | Menghadapi kondisi politik dan keamanan yang belum stabil, termasuk masa pemberontakan DI/TII di sejumlah wilayah Jawa Barat. |
| 8 | Mashudi | 1960–1970 | Menjadi salah satu gubernur dengan masa jabatan terpanjang dan memimpin Jawa Barat melewati peralihan politik dari Orde Lama menuju Orde Baru. |
| 9 | Solihin Gatutama Purwanegara | 1970–1975 | Dikenal sebagai Mang Ihin dan dikenang melalui gaya hidup sederhana, kedisiplinan, serta kedekatannya dengan masyarakat. |
| 10 | Aang Kunaefi | 1975–1985 | Memimpin selama dua periode ketika pembangunan infrastruktur, pertanian, dan kawasan perkotaan Jawa Barat berkembang cepat. |
| 11 | Yogie Suardi Memet | 1985–1993 | Melanjutkan pembangunan daerah pada masa pertumbuhan industri dan perluasan kawasan penyangga Jakarta. |
| 12 | Raden Nana Nuriana | 1993–2003 | Memimpin selama satu dekade yang mencakup krisis ekonomi 1998, pergantian rezim nasional, dan awal penerapan otonomi daerah. |
| 13 | Danny Setiawan | 2003–2008 | Menjadi gubernur terakhir sebelum Jawa Barat memasuki era pemilihan gubernur secara langsung oleh masyarakat. |
| 14 | Ahmad Heryawan | 2008–2018 | Gubernur pertama Jawa Barat yang terpilih melalui pilkada langsung. Tokoh yang akrab disapa Aher ini memenangkan dua periode kepemimpinan. |
| 15 | Mochamad Ridwan Kamil | September 2018–September 2023 | Mantan Wali Kota Bandung dengan latar belakang arsitek yang membawa pendekatan digital dan komunikasi media sosial dalam pemerintahan provinsi. |
| 16 | Dedi Mulyadi | Februari 2025–sekarang | Mantan Bupati Purwakarta dua periode yang terpilih bersama Erwan Setiawan untuk masa jabatan 2025–2030. |
Portal resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencantumkan urutan tokoh yang sama, tetapi terdapat perbedaan rentang tahun pada beberapa periode awal. Perbedaan itu terutama muncul pada masa R. Mas Sewaka dan Ukar Bratakusumah karena pemerintahan berjalan di tengah revolusi, pembentukan Negara Pasundan, dan perubahan menuju Republik Indonesia Serikat.
Dari Penunjukan Pemerintah hingga Pilkada Langsung
Pada masa awal kemerdekaan, gubernur ditunjuk pemerintah pusat karena Indonesia belum memiliki sistem pemilihan kepala daerah seperti sekarang. Tantangan utamanya bukan hanya pembangunan, tetapi juga mempertahankan pemerintahan Republik di tengah konflik bersenjata dan perubahan wilayah kekuasaan.
Setelah kondisi politik lebih stabil, pemilihan gubernur melibatkan DPRD. Mekanisme tersebut berlangsung hingga masa Danny Setiawan sebelum Jawa Barat menggelar pemilihan gubernur langsung pada 2008.
Ahmad Heryawan bersama Dede Yusuf memenangi pemilihan langsung pertama tersebut. Lima tahun kemudian, Aher kembali menang untuk periode kedua dengan Deddy Mizwar sebagai wakil gubernur.
Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum kemudian terpilih untuk periode 2018–2023. Setelah masa jabatan mereka berakhir, Bey Machmudin ditunjuk sebagai penjabat gubernur untuk memastikan roda pemerintahan tetap berjalan sampai kepala daerah hasil Pilgub 2024 dilantik.
Dedi Mulyadi Menjadi Gubernur Jawa Barat Ke-16
Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan memenangkan Pilgub Jawa Barat 2024 dengan 14.130.192 suara atau 62,22 persen dari seluruh suara sah. KPU Jawa Barat menetapkan pasangan tersebut sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih pada 9 Januari 2025.
Pelantikan pada 20 Februari 2025 menandai kembalinya kepemimpinan definitif setelah sekitar 17 bulan Jawa Barat dipimpin penjabat gubernur. Dedi membawa pengalaman panjang dari pemerintahan daerah setelah pernah menjabat Wakil Bupati dan Bupati Purwakarta.
Perjalanan 16 Gubernur Jawa Barat dari masa ke masa juga memperlihatkan perubahan tantangan yang mereka hadapi. Gubernur era kemerdekaan berjuang mempertahankan administrasi pemerintahan, sedangkan pemimpin setelahnya menghadapi urbanisasi, industrialisasi, otonomi daerah, pertumbuhan penduduk, kemacetan, lingkungan, dan kesenjangan pembangunan.
Dedi Mulyadi kini memimpin provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Besarnya dukungan dalam Pilgub 2024 memberikan modal politik kuat, tetapi juga membawa tuntutan besar untuk mengelola kebutuhan puluhan juta warga dengan kondisi wilayah yang berbeda antara kawasan metropolitan, industri, pertanian, pegunungan, dan pesisir.





