Hati-hati! BRIN Ungkap Virus Nipah Intai Pemukiman Indonesia

Hati-hati! BRIN Ungkap Virus Nipah Intai Pemukiman Indonesia

akalmerdeka.id – Peneliti BRIN mewanti-wanti potensi munculnya wabah virus Nipah di Indonesia akibat kedekatan habitat kelelawar dengan permukiman penduduk pada Rabu (28/1/2026). Risiko penularan lokal kini menjadi ancaman nyata menyusul temuan jejak virus tersebut di sejumlah pasar hewan di Jawa Tengah.

Ancaman Nyata di Pasar Hewan Lokal

Studi terbaru pada tahun 2025 memberikan temuan mengejutkan mengenai penyebaran virus Nipah di wilayah domestik. Virus berbahaya tersebut terdeteksi pada kelelawar yang berada di pasar hewan wilayah Yogyakarta dan Magelang.

Kondisi ini mengindikasikan adanya transmisi regional yang aktif serta kemungkinan penularan lokal di antara populasi kelelawar buah. Luasnya sebaran spesies kelelawar ini di berbagai daerah di Indonesia memicu kekhawatiran besar akan terjadinya lompatan virus ke manusia.

Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa beberapa spesies kelelawar di Indonesia memang berpotensi menjadi reservoir alami.

Kedekatan habitat kelelawar dengan permukiman manusia, praktik perburuan dan perdagangan kelelawar, serta keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang buruk meningkatkan risiko terjadinya spillover virus ke manusia dan hewan domestik,” tegas Niluh.

Baca Juga :  Regimen 6 Bulan TBC Bandung dan Opsi 4 Bulan

Risiko Penularan Melalui Inang Perantara

Keberadaan populasi babi dalam jumlah besar di beberapa wilayah juga menjadi faktor risiko yang tidak boleh diabaikan. Hewan ini dapat berperan sebagai inang perantara yang mempercepat penyebaran virus Nipah sebelum menginfeksi manusia.

Praktik peternakan yang tidak terjaga sanitasinya memperbesar peluang virus untuk bermutasi atau berpindah spesies dengan cepat. Interaksi intens antara ternak, kelelawar, dan manusia di lingkungan yang sama menciptakan bom waktu bagi kesehatan publik.

Niluh menambahkan bahwa sosialisasi mengenai risiko kontak dengan hewan penular harus dilakukan secara masif mulai saat ini.

Lalu, sosialisasi atau peningkatan kesadaran masyarakat mengenai risiko kontak dengan kelelawar dan babi, serta bahaya konsumsi makanan yang terkontaminasi, dapat menjadi langkah efektif dalam menurunkan risiko penularan virus Nipah,” jelasnya.

Urgensi Implementasi Strategi One Health

Menghadapi ancaman ini, pendekatan tunggal dari sektor kesehatan manusia saja tidak akan mencukupi. BRIN menekankan pentingnya pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan.

Baca Juga :  Risiko Jangka Panjang Kosmetik Berbahaya yang Kerap Luput dari Perhatian Konsumen

Pemantauan ketat terhadap satwa liar di habitat aslinya harus berjalan selaras dengan pengawasan klinis di rumah sakit. Tanpa kolaborasi lintas sektor, deteksi dini terhadap ancaman virus Nipah akan sulit dilakukan secara akurat.

Meskipun kasus pada manusia belum ditemukan secara resmi di Indonesia, kewaspadaan harus tetap berada pada level tertinggi. Pengalaman negara tetangga seperti Malaysia dan Bangladesh menunjukkan betapa mematikannya virus ini jika terlambat diantisipasi.

Keberadaan NiV di negara-negara tetangga tersebut memperkuat kekhawatiran akan potensi kemunculan wabah di Indonesia,” tutur Niluh memperingatkan. Peningkatan kesadaran masyarakat merupakan benteng pertama yang paling efektif untuk meminimalkan dampak wabah di masa depan.

Perencanaan kesiapsiagaan yang matang harus segera disusun oleh pemerintah sebelum krisis benar-benar terjadi. Penilaian risiko secara berkala di wilayah yang memiliki populasi kelelawar tinggi harus menjadi agenda prioritas nasional.

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *