Indonesia Masuk Daftar Negara Terkuat Dunia 2026, Peringkat 33

Indonesia Masuk Daftar Negara Terkuat Dunia 2026, Peringkat 33
Bundaran HI, Jakarta

AkalMerdeka.id – Indonesia masuk daftar negara terkuat dunia 2026 dengan menempati peringkat ke-33 dalam kategori Power pada Best Countries Index. Indonesia memperoleh skor 12,1, jauh di bawah Amerika Serikat yang memimpin dengan nilai sempurna 100.

Posisi tersebut bukan peringkat kekuatan militer Indonesia. Indeks ini mengukur persepsi masyarakat internasional terhadap pengaruh suatu negara melalui gabungan citra ekonomi, politik, diplomasi, aliansi internasional, dan kemampuan militernya.

Survei dilakukan terhadap 15.131 responden dari 33 negara pada 15 Desember 2025 hingga 24 Februari 2026. Mereka diminta menghubungkan negara dengan sejumlah karakteristik yang dianggap penting bagi keberhasilan dan pengaruh sebuah bangsa.

Indonesia Peringkat 33 Negara Terkuat Dunia 2026

Skor Power Indonesia sebesar 12,1 menempatkannya di urutan ke-33. Dalam laporan yang sama, Indonesia berada di peringkat ke-40 untuk penilaian keseluruhan Best Countries, sedangkan posisinya berbeda-beda pada kategori lain seperti warisan budaya, kemudahan berusaha, dan kualitas hidup.

Skor 12,1 bersifat relatif, bukan nilai dari skala penilaian biasa. Negara dengan skor tertinggi mendapat angka 100, lalu skor negara lain dihitung sebagai perbandingan terhadap pemimpin kategori tersebut.

Baca Juga :  15 Perempuan Pecahkan Sejarah, Kini Pimpin Kantor Urusan Agama
PeringkatNegaraSkor Power
1Amerika Serikat100
2China93,6
3Rusia91,4
4Inggris84,3
5Jerman74,1
33Indonesia12,1

Amerika Serikat mempertahankan posisi pertama dengan keunggulan ekonomi, teknologi, jaringan aliansi, pengaruh budaya, dan kemampuan pertahanan global. China mengikuti dengan skor 93,6, sedangkan Rusia berada di urutan ketiga dengan 91,4.

Jarak skor tiga negara teratas dengan Indonesia memperlihatkan besarnya perbedaan persepsi pengaruh global. Inggris memperoleh 84,3 dan Jerman 74,1, sedangkan skor Indonesia belum mencapai seperlima nilai Jerman.

Bukan Peringkat Kekuatan Militer

Istilah negara terkuat dunia 2026 dapat menimbulkan kesan bahwa pemeringkatan dibuat berdasarkan jumlah tentara, pesawat tempur, kapal perang, atau senjata. Padahal, laporan ini bertumpu pada jawaban responden terhadap atribut yang melekat pada citra setiap negara.

Karena berbasis persepsi, hasilnya dapat berbeda dari indeks militer, ukuran produk domestik bruto, atau peringkat diplomasi. Negara dengan ekonomi besar belum tentu memperoleh skor tinggi apabila pengaruh politik, aliansi, kepemimpinan, atau citranya di luar negeri dinilai terbatas.

Baca Juga :  105 Pati TNI Naik Pangkat, TNI AD Terbanyak dengan 44 Perwira

Laporan tersebut menggunakan 73 atribut yang kemudian dikelompokkan dalam 10 faktor. Selain Power, faktor lain mencakup kewirausahaan, pengaruh budaya, warisan, kelincahan menghadapi perubahan, kualitas hidup, keterbukaan usaha, dan tujuan sosial.

Modal Indonesia Belum Sepenuhnya Menjadi Pengaruh Global

Dalam profilnya, laporan Best Countries menggambarkan Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20, serta negara dengan posisi strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Kepemimpinan di ASEAN, sumber daya alam, dan perannya dalam rantai pasok global turut menopang relevansi Indonesia.

Namun, ukuran wilayah, jumlah penduduk, dan besarnya ekonomi tidak otomatis menghasilkan pengaruh internasional yang sebanding. Pengaruh juga bergantung pada kemampuan membentuk agenda global, memperluas jaringan diplomasi, menghasilkan teknologi, membangun perusahaan berskala dunia, dan mempertahankan citra kebijakan yang konsisten.

Peringkat ke-33 dapat dibaca sebagai tanda bahwa Indonesia telah dikenal sebagai negara dengan daya tawar global, tetapi belum dipersepsikan setara dengan kekuatan utama. Tantangannya bukan sekadar meningkatkan kapasitas militer, melainkan mengubah modal ekonomi, posisi geografis, diplomasi, dan industri strategis menjadi pengaruh yang lebih terasa di luar kawasan.

Baca Juga :  Shiddiqiyyah dan Akar Kejujuran dalam Sejarah Islam

Hasil survei juga tidak dapat diperlakukan sebagai ukuran mutlak kemampuan sebuah negara. Persepsi internasional dapat berubah mengikuti konflik, pergantian pemerintahan, kinerja ekonomi, kemajuan teknologi, dan intensitas suatu negara tampil dalam isu global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *