TTBH ke-24 di Grobogan Dihadiri Warga Shiddiqiyyah Indonesia dan Malaysia

TTBH ke-24 di Grobogan Dihadiri Warga Shiddiqiyyah Indonesia dan Malaysia
JKPHS Mensyukuri tahun baru 1448 - dok Opshid Media

Grobogan, AkalMerdeka.id – TTBH ke-24 di Grobogan mempertemukan warga Shiddiqiyyah dari berbagai daerah di Indonesia dan perwakilan Malaysia, Minggu, 12 Juli 2026. Agenda tahunan JKPHS itu digelar di Gedung Serbaguna Dewi Sri, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Kegiatan bertajuk Shillaturochmi dan Tasyakkuran Tahun Baru Hijriyyah tersebut dihadiri Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, Ibu Nyai Shofwatul Ummah, pengurus pusat dan daerah, serta tamu dari unsur pemerintah dan masyarakat.

TTBH ke-24 di Grobogan Libatkan Lima Cabang JKPHS

Persiapan acara tahun ini melibatkan lima cabang JKPHS dari Grobogan, Pati, Demak, Blora, dan Rembang. Kehadiran peserta dari berbagai wilayah memperlihatkan jangkauan kegiatan yang tidak lagi terbatas pada satu daerah.

JKPHS kini memiliki 117 cabang, termasuk sejumlah cabang di luar negeri. Jaringan organisasi tersebut juga mencakup 225 anak cabang, 95 ranting, dan 11 anak ranting.

TTBH ke-24 di Grobogan menjadi ruang pertemuan bagi jaringan organisasi yang tersebar luas tersebut. Selain menjaga hubungan antarcabang, agenda ini memperkuat koordinasi dan kebersamaan warga Shiddiqiyyah.

Baca Juga :  Banjir Jakarta Capai 95 Cm, Pasar Minggu Terdampak Terparah

Di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah, JKPHS merupakan wadah perempuan yang menjalankan misi sosial, kemanusiaan, dan spiritual. Misi tersebut diarahkan untuk membangun kehidupan masyarakat yang dilandasi rasa syukur serta kepedulian terhadap bangsa dan negara.

Pengurus Organisasi Shiddiqiyyah, Joko Herwanto, mengatakan JKPHS senantiasa memanjatkan doa Nabi Ibrahim untuk keselamatan Indonesia. Menurutnya, rasa syukur menjadi dasar penting dalam mewujudkan kehidupan yang aman dan tenteram.

“Dalam mencapai negara baldatun ṭhoyyibatun wa robbun ghofur, negara yang aman diawali dengan menjadi hamba yang pandai bersyukur. Beginilah Sang Guru memberikan dawuhnya, Shiddiqiyyah fokus pada ibadah syukur, tidak berafiliasi dengan kepentingan politik dan berkemandirian non proposal,” ujar Pengurus ORSHID, Joko Herwanto.

Ketua Umum JKPHS
Ketua Umum JKPHS – dok Opshid Media

Syukur Hijriah dan Pesan Cinta Tanah Air

Selain menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H, acara ini membawa pesan kebangsaan melalui tema “Gemolongnya Api Jati Diri Bangsa Indonesia dari Bumi Purwodadi”. Tema tersebut menghubungkan kegiatan spiritual dengan upaya menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Baca Juga :  100 Dapur SPPG Fiktif di Cilacap, Titiknya Ada di Hutan hingga Kuburan

Semangat kemandirian juga tercermin dari penyelenggaraan kegiatan yang bertumpu pada kesadaran dan kekompakan warga Shiddiqiyyah. Prinsip tersebut menjadi bagian dari identitas organisasi yang disebut tidak berafiliasi dengan kepentingan politik.

Ketua Umum JKPHS, Pujiarti, menyebut shillaturochmi sebagai wadah dakwah dan syiar ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah. Ia menilai suasana semarak dalam acara tersebut mencerminkan kuatnya ikatan warga dalam menjaga keberlanjutan kegiatan.

“Acara ini sebagai syiar kita untuk mensyiarkan ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah di Bumi Purwodadi. Suasana hari ini sangat semarak, itu menandakan kalau acara shillaturrochmi adalah medan magnet Shiddiqiyyah yang tak akan padam di dalam perjuangan fii sabilillah, terutama Laa ilaha illalloh,” ujar Ketua Umum JKPHS, Pujiarti.

Acara tersebut turut dihadiri perwakilan Gubernur Jawa Tengah Gunawan Sudarsono, Langgeng Purnomo dari Divisi Hukum Polri, perwakilan Polda Jawa Tengah, Disporapar Jawa Tengah, Dandim Grobogan, FKUB Jawa Tengah, serta tokoh Nahdlatul Ulama K.H. Uki Marzuki Sholihin.

Kehadiran berbagai unsur pemerintah, aparat, organisasi keagamaan, dan masyarakat memperluas fungsi kegiatan dari pertemuan internal menjadi ruang silaturahmi lintas kelompok. Agenda tahunan ini juga mempertemukan misi spiritual JKPHS dengan pesan persatuan dan kebangsaan.

Baca Juga :  Mahasiswa Kritik Budiman Sudjatmiko, Dialog di Semarang Sempat Memanas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *