Satelit NEO-1 Meluncur Januari 2027, TKDN Capai 65 Persen

AkalMerdeka.id – BRIN menargetkan Satelit NEO-1 meluncur pada Januari 2027 sebagai satelit observasi Bumi buatan Indonesia. Satelit ini diklaim menjadi langkah penting dalam penguasaan teknologi satelit nasional, dari perancangan, pengujian, hingga operasi misi.
Target itu disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Arif Satria, dalam peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.
“Insya Allah pada Januari 2027, BRIN akan meluncurkan Nusantara Observation-1 (NEO-1), satelit observasi Bumi hasil karya putra-putri terbaik bangsa,” kata Kepala BRIN, Arif Satria.
Satelit NEO-1 Jadi Ujian Kemandirian Teknologi Indonesia
NEO-1 bukan sekadar proyek peluncuran satelit baru. Satelit observasi Bumi kelas minisatelit ini diposisikan sebagai bukti bahwa Indonesia mulai membangun kemampuan dari hulu ke hilir dalam teknologi antariksa.
Arif menyebut Indonesia tidak hanya terlibat pada tahap penggunaan data, tetapi juga pada perancangan misi, desain sistem, integrasi, pengujian, perangkat lunak, operasi satelit, sampai hubungan dengan stasiun bumi.
“Peluncuran NEO-1 ini akan menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu menguasai seluruh rantai teknologi satelit, mulai dari perancangan, integrasi, pengujian, hingga operasi misi satelit,” ujar Kepala BRIN, Arif Satria.
BRIN menyebut tingkat komponen dalam negeri atau TKDN Satelit NEO-1 mencapai sekitar 65 persen. Angka ini menjadi bagian penting karena menunjukkan porsi kemampuan nasional dalam proyek tersebut, bukan hanya pembelian teknologi siap pakai.
Apa Kemampuan NEO-1?
NEO-1 dirancang untuk menghasilkan citra resolusi tinggi dan menengah. Satelit ini juga membawa Automatic Identification System atau AIS untuk memantau aktivitas kapal.
Selain itu, NEO-1 dibekali sensor optik pada spektrum cahaya tampak dan thermal infrared. Kombinasi ini membuat satelit bisa dipakai untuk membaca kondisi permukaan Bumi dari berbagai kebutuhan.
| Fitur NEO-1 | Manfaat Utama |
|---|---|
| Citra resolusi tinggi dan menengah | Pemantauan wilayah, lahan, dan perubahan lingkungan |
| AIS | Pelacakan aktivitas kapal di wilayah perairan |
| Sensor optik visible | Observasi permukaan Bumi dengan cahaya tampak |
| Thermal infrared | Pemantauan berbasis suhu permukaan |
Data dari satelit ini akan digunakan untuk pemantauan pertanian, kehutanan, kelautan, lingkungan, mitigasi bencana, hingga pelacakan kapal. Pengguna datanya mencakup pemerintah, peneliti, dan industri.
Kenapa Peluncuran Ini Penting?
Nilai strategis Satelit NEO-1 terletak pada data. Negara kepulauan seperti Indonesia membutuhkan pemantauan cepat atas hutan, laut, lahan pertanian, dan wilayah rawan bencana.
Jika data satelit bisa diproduksi dan dioperasikan sendiri, pemerintah memiliki peluang lebih besar untuk mengambil keputusan berbasis informasi yang lebih dekat dengan kebutuhan nasional. Ini penting untuk pangan, lingkungan, kebencanaan, dan keamanan laut.
Bagi industri dan peneliti, data observasi Bumi juga bisa membuka ruang pengembangan layanan berbasis geospasial. Artinya, manfaat NEO-1 tidak berhenti pada simbol kemandirian teknologi, tetapi juga dapat masuk ke ekonomi data dan riset terapan.
Arif menegaskan peluncuran NEO-1 bukan tujuan akhir. Indonesia masih perlu bergerak ke teknologi satelit yang lebih kompleks, termasuk satelit telekomunikasi nasional.
“Harapan besar kita adalah Indonesia mampu memproduksi satelit telekomunikasi nasional,” ujar Kepala BRIN, Arif Satria.
Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan kemampuan tersebut setelah peluncuran. Ukuran keberhasilan tidak hanya jumlah satelit, tetapi seberapa besar data dan teknologi itu benar-benar memberi manfaat ekonomi, sosial, dan strategis bagi masyarakat.





