Penyakit Hati Kronis Diperkirakan Menyerang 70 Juta Warga Indonesia

Penyakit Hati Kronis Diperkirakan Menyerang 70 Juta Warga Indonesia

AkalMerdeka.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkirakan penyakit hati kronis terjadi pada sekitar 70 juta penduduk Indonesia. Tingginya angka tersebut menjadi perhatian karena penyakit hati sering berkembang tanpa gejala dan baru terdeteksi ketika kondisinya sudah memasuki tahap yang lebih berat.

Penyakit Hati Kronis Jadi Ancaman Kesehatan yang Kerap Terlambat Terdeteksi

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan penyakit hati kronis memiliki prevalensi yang tinggi di Indonesia. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini perlu diperkuat agar kasus tidak berkembang menjadi sirosis maupun kanker hati.

“Penyakit hati kronis memiliki prevalensi yang tinggi. Karena itu kita harus memperkuat strategi promotif dan preventif,” ujar Budi dalam forum Healthy Liver Awareness for Indonesia di Jakarta.

Menurut Budi, salah satu tantangan terbesar adalah karakter penyakit hati yang berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Banyak penderita tidak menyadari kondisi mereka karena gejala sering tidak muncul pada tahap awal.

“Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun. Ketika gejala muncul, sering kali penyakit sudah berada pada tahap lanjut,” katanya.

Baca Juga :  Hati-hati! BRIN Ungkap Virus Nipah Intai Pemukiman Indonesia

Skrining Hepatitis Masih Jauh dari Target WHO

Kemenkes menilai deteksi dini menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko komplikasi penyakit hati kronis.

Saat ini, cakupan skrining hepatitis di Indonesia diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen. Angka tersebut masih jauh di bawah target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menargetkan 90 persen kasus hepatitis dapat terdeteksi.

Rendahnya tingkat skrining membuat banyak kasus tidak teridentifikasi sejak awal. Akibatnya, pasien baru mendapatkan penanganan ketika kerusakan hati sudah cukup berat.

Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Profesor David Handojo Muljono, mengatakan banyak kasus hepatitis B kronis tidak terdeteksi karena berlangsung tanpa gejala.

Ia menilai perluasan akses skrining menjadi langkah penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.

Bagaimana Penyakit Hati Berkembang?

Hati merupakan organ vital yang berfungsi menyaring racun dari darah. Ketika fungsi ini terganggu, berbagai masalah kesehatan dapat muncul.

Mengacu pada penjelasan Cleveland Clinic, penyakit hati umumnya berkembang secara bertahap. Tahap awal biasanya berupa hepatitis atau peradangan pada jaringan hati.

Baca Juga :  Vaksinasi HPV: Investasi Intelektual Melawan Patogen Kanker

Pada sebagian kasus, hepatitis masih dapat diobati dan dipulihkan. Namun jika kerusakan terus berlangsung, kondisi dapat berkembang menjadi fibrosis atau pembentukan jaringan parut pada hati.

Fibrosis mengurangi aliran darah, oksigen, dan nutrisi ke organ hati. Meski demikian, tahap ini masih memiliki peluang untuk dipulihkan karena sel hati mampu beregenerasi.

Jika kerusakan terus berlanjut, penyakit dapat berkembang menjadi sirosis. Pada fase ini, jaringan parut bersifat permanen dan tidak dapat kembali normal.

Risiko Gagal Hati dan Kanker Hati

Sirosis menjadi salah satu tahap paling serius dalam perjalanan penyakit hati kronis.

Ketika sirosis tidak tertangani, penderita berisiko mengalami gagal hati. Kondisi ini terjadi saat hati tidak lagi mampu menjalankan fungsi utamanya secara optimal.

Dalam kasus tertentu, gagal hati kronis dapat berujung fatal dan memerlukan transplantasi hati sebagai pilihan penanganan.

Risiko inilah yang membuat deteksi dini menjadi sangat penting. Semakin cepat penyakit ditemukan, semakin besar peluang mencegah kerusakan permanen pada hati.

Gejala Awal yang Sering Diabaikan

Salah satu alasan penyakit hati kronis kerap terlambat terdiagnosis adalah gejalanya yang cenderung samar.

Baca Juga :  Risiko Jangka Panjang Kosmetik Berbahaya yang Kerap Luput dari Perhatian Konsumen

Pada tahap awal, penderita dapat mengalami:

  • Nyeri di bagian atas perut.
  • Mual atau kehilangan nafsu makan.
  • Kelelahan tanpa penyebab yang jelas.

Gejala tersebut sering dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan sehingga banyak orang tidak segera memeriksakan diri.

Karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penyakit hati dan perluasan akses skrining dinilai menjadi kunci untuk menekan risiko sirosis, kanker hati, hingga gagal hati di masa mendatang.

Hilman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *