Kematian Ali Larijani: Analisis Kevakuman Kepemimpinan Strategis di Iran

AkalMerdeka.id — Pembunuhan Ali Larijani oleh militer Israel pada 17 Maret 2026 di Tehran menghadirkan tantangan intelektual dan politik yang serius bagi stabilitas Republik Islam Iran.
Larijani, yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC), tewas dalam serangan udara di sebuah rumah aman. Kematian mantan negosiator nuklir ini terjadi hanya sehari setelah gugurnya Komandan Basij, Gholamreza Soleimani, yang juga menjadi target operasi intelijen IDF.
Secara rasional, Larijani adalah pilar intelektual dalam sistem politik Iran selama empat dekade terakhir. Ia dikenal sebagai sosok canggih yang mampu menjembatani faksi pragmatis dan garis keras di lingkungan elit kekuasaan Teheran.
Vakum Konsensus dan Disrupsi Diplomasi
Kematian Larijani menciptakan kevakuman kepemimpinan ganda yang sulit terisi dalam waktu dekat. Sebagai pemimpin de facto sejak kematian Ayatollah Ali Khamenei pada Februari 2026, Larijani adalah satu-satunya figur yang mampu membangun koalisi internal untuk negosiasi.
Juru bicara militer IDF, Avichay Adraee, pada 17 Maret 2026 menyatakan bahwa “Larijani adalah tokoh paling menonjol di puncak piramida rezim. Kematiannya merupakan pukulan terhadap kemampuan koordinasi bermusuhan terhadap Israel,” tuturnya secara terbuka.
Namun, para pengamat menilai langkah Israel ini justru berisiko menutup pintu diplomasi secara permanen. Tanpa Larijani, faksi moderat seperti Presiden Masoud Pezeshkian kehilangan pelindung politik yang kuat untuk merumuskan akhir konflik melalui jalur meja perundingan.
Dampak Struktural pada Organisasi Basij
Di sisi lain, eliminasi Gholamreza Soleimani diprediksi akan mengganggu rantai komando Basij, organisasi paramiliter beranggotakan 450.000 personel. Intelijen Israel mengonfirmasi Soleimani terkena serangan di kamp tenda baru setelah markas besarnya hancur dalam pemboman sebelumnya.
Mohamad Elmasry, Profesor di Doha Institute, memberikan catatan kritis kepada Al Jazeera pada 17 Maret 2026. “Meskipun akan ada pemimpin baru, ini sangat signifikan secara simbolis dan psikologis bagi rezim,” ujarnya dalam analisis pasca-kejadian.
Kehilangan dua tokoh kunci dalam rentang 24 jam ini memaksa Iran melakukan reorientasi strategi pertahanan nasional. Fokus kini tertuju pada sejauh mana kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei mampu mengonsolidasikan kekuatan di tengah tekanan militer yang kian intensif. ***





