Kementan Bidik Produktivitas Petani Kelapa Sawit Dua Kali Lipat

Kementan Bidik Produktivitas Petani Kelapa Sawit Dua Kali Lipat

akalmerdeka.id – Kementan membidik peningkatan produktivitas petani kelapa sawit hingga dua kali lipat melalui percepatan peremajaan kebun dan intensifikasi budidaya. Target ini muncul di tengah data produktivitas tandan buah segar (TBS) petani yang masih berada di bawah potensi optimal.

Secara nasional, luas areal kelapa sawit Indonesia pada 2024–2025 tercatat 16,83 juta hektare. Produksi minyak sawit mentah mencapai 45,44 juta ton pada 2024 dan meningkat menjadi 46,55 juta ton pada 2025. Produktivitas rata-rata nasional berada di kisaran 3,5 hingga 3,6 ton per hektare.

Namun pada tingkat petani, produktivitas TBS rata-rata masih sekitar 9,2 ton per hektare per tahun. Angka ini dinilai dapat ditingkatkan secara signifikan melalui peremajaan dan praktik budidaya yang lebih terukur.

Replanting 2,5 Juta Hektare

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia, Sahat Sinaga, menyebut potensi peremajaan sawit rakyat mencapai sekitar 35 persen atau setara 2,5 juta hektare lahan petani.

Menurutnya, perbaikan program replanting menjadi kunci untuk mengejar produktivitas yang lebih tinggi. Dengan kebun yang dikelola optimal, produksi TBS dapat mencapai 21 ton per hektare per tahun.

Baca Juga :  Kepala BAIS Mundur: Rasionalitas Pertanggungjawaban Moral di Tubuh TNI

Bahkan, dalam praktik intensifikasi yang tepat, kebun sawit mampu menghasilkan hingga 33 ton TBS per hektare per tahun tanpa perlu membuka lahan baru.

Intensifikasi dan Budidaya Berkelanjutan

Pelaksana Tugas Dirjen Perkebunan Abdul Roni Angkat menekankan pentingnya penguatan praktik budidaya berkelanjutan dan sertifikasi. Langkah ini diarahkan untuk menjaga produktivitas sekaligus menjawab tantangan daya saing global.

“Hilirisasi menjadi strategi penting agar sawit tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi,” ujarnya.

Dalam konteks produktivitas, intensifikasi berarti peningkatan hasil per hektare melalui perbaikan bibit, pengelolaan nutrisi, dan teknik panen yang efisien. Artinya, kenaikan produksi tidak harus identik dengan ekspansi lahan.

Dengan rata-rata TBS petani masih 9,2 ton per hektare, ruang peningkatan masih terbuka lebar. Kementan menempatkan replanting dan intensifikasi sebagai instrumen rasional untuk mendongkrak kinerja kebun rakyat sekaligus menjaga struktur produksi kelapa sawit nasional.

Bilal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *