Petroglif dan Struktur Bawah Tanah Gunung Padang Diperdebatkan Ilmuwan

akalmerdeka.id — Riset mutakhir di Gunung Padang memunculkan kembali pertanyaan mendasar tentang asal-usul situs tersebut. Data geofisika, petroglif berpola, dan temuan artefaktual mengarah pada dugaan rekayasa manusia prasejarah, meski verifikasi ilmiah masih terus berlangsung.
Peneliti menemukan goresan batu di hampir semua teras. Pola yang berulang dan konsisten mengindikasikan aktivitas simbolik. Menurut Ali Akbar, temuan ini tidak sejalan dengan proses geologi alami. “Pola dan pengulangannya menunjukkan intervensi manusia,” kata Ali, Ahad (21/12/2025).
Analisis juga menemukan batu andesit lempang di aliran sungai sekitar satu kilometer dari situs utama. Batu itu memuat gambar yang diduga merepresentasikan susunan teras Gunung Padang. Ali menduga batu tersebut berpindah akibat longsor, bukan proses alami biasa, mengingat ukuran dan bobotnya.
Kontradiksi Geologis
Gunung Padang tersusun dari batuan columnar joint yang lazimnya terbentuk vertikal. Di lokasi ini, orientasi batu justru horizontal dan ditata sistematis. Kontradiksi ini menjadi salah satu argumen utama dugaan rekayasa manusia.
Riset geolistrik dan georadar sejak 2013 mengidentifikasi struktur padat berlapis di bawah permukaan. Penanggalan karbon dari Laboratorium Beta Analytic menunjukkan usia lapisan terdalam sekitar 14.000 tahun. Angka ini masih diperdebatkan, tetapi menjadi dasar hipotesis bangunan berlapis sangat tua.
Artefak dan Material Tak Lazim
Pengeboran menemukan pasir halus dengan komposisi kuarsa, oksida besi-magnesium, dan silikat gelas. Komposisi tersebut sulit dijelaskan sebagai sedimentasi alami. Ditemukan pula artefak batu berbentuk senjata yang dijuluki “Kujang Gunung Padang”, dengan indikasi unsur metal merata di strukturnya.
Sekitar 100 ahli dari berbagai disiplin akan dilibatkan dalam kajian lanjutan menggunakan pemindaian laser dan sensor geomagnetik berbasis drone. Hasilnya diharapkan memberi kejelasan metodologis atas temuan-temuan ini.***





